Tuesday, 15 October 2013

Suku Minang dan Suku Alas, Saudara Angkat yang Terpisah Karena Jarak

"Merawa", Adalah Bendera Suku Minangkabau
Yang Sudah Ada Sejak Zaman Kerajaan
Pagaruyung, Bendera Ini Tidak ada Hubungannya
Dengan Bendera Jerman
   KUTACANE(27/09/2013), pasti pada bingung kenapa ane nulis judul postingan seperti di atas! apa hubungannya coba antara Suku Minangkabau dengan Suku Alas? pasti kamu berpikir tidak ada keterkaitan satu sama lain malahan sangat jauh berbeda seni dan budaya mereka di mana Suku Minangkabau menganut sistem adat "Matrilineal" keturunan diambil dari pihak wanita, sedangkan Suku Alas cenderung sama seperti adat yang dianut oleh Suku Batak yakni sistem adat "patrilineal"  keturunan diambil dari pihak lelaki. tetapi bukan kedekatan seni dan budaya yang ane maksud di sini, melainkan kedekatan sejarah antara kedua suku tersebut di masa lalu yang sekarang sejarah itu telah hilang di telat waktu, dan tidak ada sedikitpun keinginan dan niat dari PEMKAB Aceh Tenggara untuk menggali sejarah mereka dan mengarsipkannya yang bisa di pastikan di masa yang akan datang anak muda Aceh Tenggara tidak akan tau jati dirinya yang sesungguhnya dan juga sejarah sukunya sendiri, akan sangat memalukan sekali jika itu sempat terjadi, di mana daerah-daerah lain di Negara ini berlomba-lomba mencari dan menggali jati diri setiap daerahnya, sedangkan kita hanya duduk santai mendengarkan musik disco sembari bergoyang!,  untuk itu ane ingin membuka kembali buku yang telah usang di makan zaman, agar generasi muda yang ada di Kabupaten Aceh Tenggara tidak kehilangan jati dirinya, karena sejarah itu amat mahal harganya, dan tidak bisa di beli oleh uang, jika ada kesalahan postingan ane mohon maaf karena kurangnya sumber!


"Rumah Adat Suku Minang dan Suku Alas'



   Perjumpaan dan kemesraan sejarah antara kedua suku Etnick ini bermula dengan kedatangan seorang Ulama penyebar Agama Islam dari Pasai sekitar  tahun 1607-1636, Pasai pada waktu itu sudah masuk ke dalam Kesultanan Aceh Darussalam,  Malik Ibrahim Adalah nama penyebar agama islam tersebut, dialah  Ulama pertama yang konon mampu meng-Islamkan Suku Alas, nah loh apa hubungannya dengan Suku Minang? ternyata usut punya usut dalam buku karangan orang berkebangsaan Belanda, Radermacher (1781:8) mengatakan bahwa "Pada awalnya Malik Ibrahim membawa adat istiadat dari Minangkabau yang menarik keturunan dari Pihak Wanita" nah sudah jelaskan apa hubungannyakan?

"Rute Merantau Malik Ibrahim(Raja Dewa)"

  Malik Ibrahim Diperkirakan berasal dari Minang Pesisir atau daerah Pariaman, yang mana di masa itu Pariaman adalah salah satu pelabuhan terpenting di pantai Sumatra Bagian Barat(selain Barus) pada masa Sultan Iskandar Muda(1607-1636), Malik Ibrahim Merantau memperdalam ilmunya ke Pasai(waktu itu adalah salah satu pusat penghasil tengku/ustadz untuk Nusantara), setelah tamat dia melanjutkan syi'ar agama Islam ke Aceh Pedalaman bagian Tenggara yang pada waktu itu masih menganut agama Animisme(percaya pada Roh Nenek Moyang).


"Pakaian Adat Dari Kedua Suku"
   Diceritakan lagi dalam Buku Karangan Radermacher (1781:8), Malik Ibrahim yang merupakan utusan resmi dari Kesultanan Aceh Darussalam Memasuki Lembah Alas, mula-mula ia menyebarkan agama Islam di daerah Kerajaan Mbatu Mbulan yang pada waktu itu Memerintah adalah Raja Lambing(dari Batak Samosir) anak dari Raja Lotung(Nenek Moyang dari suku Karo,Alas, dan Suku Kluet di Aceh Selatan), Oleh Raja Lambing Malik Ibrahim disambut dengan ramah dan Hangat iapun dinikahkan dengan putri Raja Lambing, Setelah Itu Raja Lambing mengangkat Malik Ibrahim sebagai Raja menggantikan dia dan mengganti nama Malik Ibrahim Menjadi Raja Dewa, prasasti penyerahan tabuk kekuasaan ini dapat di lihat di daerah "Muara Lawe Sikap" namun Ada hal yang menarik perhatian, kesepakatan(yang di tulis dalam prasasti) antara putera Raja Lambing (Raja Adeh, Raja Kaye, dan Raje Lele) dengan Raja Dewa bahwa syi’ar Islam yang dibawa oleh Raja Dewa diterima oleh seluruh kalangan masyarakat Alas, tetapi adat istiadat yang dipunyai oleh Raja Lambing tetap di pakai bersama, ringkasnya hidup dikandung adat mati dikandung hukum (Islam).

"Bujang Alas dan Anak Daro Minangkabau"
 Dari Pernikahan Raja Dewa dengan putri Raja Lambing maka lahirlah seorang putra yang bernama Raja Alas(kelak karena banyaknya harta warisan dan kekuasaannya yang luas daerah kekuasaannya di sebut daerah Alas sampai pada sekarang), namun sayang karena Raja Dewa menganut Sistem adat "Matrilineal" dan ibunya menganut sistem adat "Patrilineal" maka Raja Alas mengikuti garis keturunan ibunya yakni marga Selian. dengan begitu lenyaplah sudah sistem adat Minang di Kerajaan Mbatu Mbulan dengan lahirnya Raja Alas, namun bukan sampai disitu akhir dari sejarah suku Alas dengan Minangkabau. disebutkan juga dalam buku Radermacher (1781:8) bahwa sepeninggal Raja Dewa, datanglah seorang Pemuda dari Pasai yang bernama Nazaruddin mencari ayahnya Malik Ibrahim namun karena ayahnya sudah meninggal iapun tak punya pilihan lain kecuali menetap di Lembah Alas, Nazaruddin Mendirikan Kerajaan Baru yang bernama Kerajaan Sekedang yang wilayahnya meliputi Bambel sampai Lawe Sumur Nazaruddin di kenal di Kerajaan Sekedang dengan Nama gelar Datuk Rambut, namun tidak hanya itu, yang lebih mencengangkan lagi diantara marga yang ada di Suku Alas ada juga yang bergelar Marga Tanjung(sama seperti di Ranah Minang), dari bentuk fisiknya(Tanjung asli tanpa pencampuran dengan marga lain) mereka sangat jauh berbeda dengan marga Alas lainnya, mereka hampir mirip seperti orang Minang. jadi jelas bahwa asimilasi urang awak(Minang)  dengan khalak Alas sudah terjadi jauh sebelum Belanda datang pada tahun 1904 dengan di pimpin oleh "G.C.E. Van Daalen" dengan tujuan menaklukkan sisa kekuasaan Aceh Darussalam yang masih merdeka di Lembah Gayo dan Lembah Alas. dan sisa dari asimilasi itu dapat kita lihat dengan adanya marga Selian, Sekedang(yang pendirinya adalah asli orang Minang) dan juga marga Tanjung, barulah pada awal-awal kemerdekaan Indonesia gelombang perantau Minang Mulai berdatangan kembali ke Lembah Alas, itu dapat kita lihat langsung dengan adanya perkampungan orang Minang di sana, yakni Trandam, Pasar Belakang, jln Melati dan di Kota Kutacane, nanti ane juga akan memposting sejarah perkampungan pertama orang Minang di Kotacane(Insya Allah), mungkin sampai di sini dulu post ane, moga bermanfaat ya? sampai jumpa lagi di postingan ane selanjutnya.!


Berkomentarlah dengan Cara yang sopan dan punya etika, No Bully, No Sara, No Spam dan yang terpenting No Porn, biar Barokah hidup kita!!
EmoticonEmoticon