Saturday, 27 December 2014

Kebudayaan Alas "Antara di Bodohi atau tak dipedulikan"



          KUTACANE (27 Desember 2015), Pergelaran tarian klosal Gayo dan Alas dengan mengusung tema Heritage Of Gayo & Alas, telah berasil dan sukses terselenggarakan pada tanggal 13 Desember 2014 lalu di AAC Dayan Dawood, Darussalam, Banda Aceh. pergelaran kesenian ini adalah untuk ketiga kalinya diselenggarakan. acaranya sangat sukses menurut pantauan kami, ini dapat dilihat dengan antusias para penonton yang membludak, kapasitas gedung AAC Dayan Dawood yang semestinya berjumlah 4000 kursi membludak penuh sesak sampai keluar gedung mereka berasal dari para perantau, Mahasiswa/i di Banda Aceh dari ke-4 kabupaten (Aceh Tengah, Aceh Tenggara, Gayo Lues, dan Bener Meriah), dan tak lupa juga dari masyarakat kabupaten di Aceh lainnya yang penasaran dengan kesenian Gayo dan Alas.



Namun yang sangat disayangkan adalah pengkerdilan terhadap kebudayaan Alas pada pergelaran ini, sadar atau tidak sadar, dari awal pemutaran dokumenter pergelaran sudah tampak keegoisan, dimana di jelaskan seolah-olah bahwa Kabupaten Aceh Tenggara adalah tanah Gayo, padahal kita tau bersama Kabupaten Aceh Tenggara mempunyai bumi putera suku Alas, dan jauh sebelum kabupaten bahkan negeri ini merdeka tanah ini sudah dijuluki sebagai tanoh Alas. sadar atau tidak sadar jika tidak ada pengklarifikasi masyarakat awam akan menganggap Alas itu adalah suku Gayo, yang mana kebudayaan dan bahasanya sama saja.


Setiap Kabupaten diberi kesempatan sekali tampil penuh menampilkan kesenian khas dari masing-masing daerah tanpa ada batasan waktu seperti tari guel dari Aceh Tengah, Seni Didong dari Bener Meriah, dan Tari Saman dari Gayo Lues, tapi pada kenyataannya tidak pada kesenian khas Alas, memang ada ditampilkan yakni Tari Belo Mesusun tetapi itu hanyalah tidak lebih berdurasi 5 menit dan hanya sebagai selingan saja dari tari Bines (Gayo Lues), jadi untuk apa ditampilkan unsur Alas terpampang jelas dispanduk, memang tari bines dan saman juga berkembang di kutacane, tetapi balik lagi keawal bahwa kutacane adalah tanoh Alas tanahnya Raje Dewa dan Guru Leman.!


"Salah Satu Adegan selingan tarian belo mesusun"


Dan yang membuat saya kecewa dimana pada waktu itu saya ikut serta menyaksikan pergelaran ini adalah dimana ditampilkannya kesenian Sebuku (Gayo) dimana jelas-jelas terpampang bahwa pergelaran kali ini menampilkan kesenian Tangis Dilo, dan tidak ada yang namanya kesenian sebuku. diantara kedua kesenian ini memang hampir mirip cuma berbeda di bahasa saja dan tanpa penggunaan seruling di tangis dilo. jadi untuk apa ditulis tangis dilo toh jadinya sebuku, ini kan namanya penipuan? usut punya usut saya dapat info dari kawan dari Gayo Lues, ternyata panitia pergelaran ini telah mencoba mengontak dinas kebudayaan Aceh tenggara untuk mengirimkan penyenandung tangis dilo tetapi tidak ada gubrisan dari dinas, sedangkan mencari penyenandung di banda aceh tidak ada yang mampu. itu dapat diterima memang saya akui di kutacane mencari orang yang bisa menyenandungkannya sangatlah sedikit, pada saat ini kesenian tangis dilo biasanya sekarang tinggallah rekaman saja yang diputar. tetapi apa salahnya panitia penyelenggara mengklarifikasi dan meminta maaf kalau tidak bisa menampilkan kesenian tangis dilo dan sebagai gantinya adalah kesenian sebuku.


Ini harus dianggap serius kita punya jati diri, lebih baik tidak usah sama sekali menggunakan embel-embel "Alas" jika pada kenyataannya kita hanyalah menjadi iklan tak digubris dari sebuah senetron.



Berkomentarlah dengan Cara yang sopan dan punya etika, No Bully, No Sara, No Spam dan yang terpenting No Porn, biar Barokah hidup kita!!
EmoticonEmoticon