Friday, 6 March 2015

Pepongoten Seni Ratapan dari Gayo


"Pepongoten By Tanoh Gayo"
     


        AEFARLAVA (01 Maret 2014),  Pepongoten/Sebuku adalah salah satu kesenian yang tumbuh dan berkembang di masyarakat Gayo (Blangkejereun dan Kuta cane), kesenian ini sendiri hampir sama dengan kesenian yang berkembang pada masyarakat Alas dengan istilah yang berbeda yakni Tangis Dilo.

       Pepongoten berasal dari kata Pongot (Red-Gayo) yang artinya Tangisan/Ratapan, dulu biasanya kesenian ini dilakukan pada saat adanya keluarga yang meninggal dunia akan tetapi setelah masuknya syiar Islam ke negeri seribu bukit ini yang mana melarang orang yang masih hidup meratapi orang yang telah meninggal dunia maka tradisi pepongoten pada saat meninggal dunia mulai ditinggalkan, dan kini kesenian ini hanya diadakan pada saat adanya perhelatan pernikahan dan pekan kesenian dan kebudayaan yang diadakan Pemkab Gayo Lues maupun Pemkab Aceh Tenggara.

      Dalam pergelaran Pepongoten dalam persepsi pernikahan ada beberapa cara/bagian yang harus dilewati satu persatu secara berurutan :

      Persepsi pertama sekali yang harus dilewati adalah pepongoten Man Pasir dimana calon mempelai wanita akan meminta-maaf satu sama lain dengan teman-teman sebayanya dikampung dengan kata-kata halus dan memiliki makna yang dalam akan penyesalan tingkah lakunya selama ini sembari mengingat-ngingat masa-masa mereka dahul, diharapkan calon mempelai wanita selama "pongot" mencicipi sedikit demi sedikit nasi dari teman-teman sebayanya yang telah di hidangkan selama pergelaran Pepongoten Man Pasir yang biasa diadakan pada saat setelah sholat Isya.

     Pongot Berguru  adalah acara kedua dimana si mempelai wanita akan meminta maaf kepada saudara-saudara atau keluarga terdekatnya dengan duduk diatas nampang (Tikar kecil).

     Pada acara ketiga simempelai lelaki akan datang dan biasanya disebut dengan pongot mah bayi dimana sembari pongot kedua mempelai ini akan diberi nasehat oleh orang tua mereka cara berumah tangga yang baik sembari ditepung tawari.

     persepsi ke-4 adalah Pongot Besinen (Pamitan) kedua mempelai laki/wanita yang telah sah menikah akan berpamitan kepada orang tua dan saudar-saudara terdekat dari mempelai wanita sembari dipakaikan kain krawang kepada mereka berdua, tepung tawar tak lupa diberikan juga.

    Persepsi yang terakhir dalam pepongoten adalah Pongot Mahberu \ tangon untuk terakhir kalinya mempelai wanita akan diantar oleh keluarganya ke rumah mempelai lelaki, tak pula mempelai wanita akan terus-menerus pongot sampai ke rumah mempelai lelaki.!

Mungkin sekian dulu dengan postingan saya kali ini, berikut adalah sepenggal syair dalam pepongoten :

Pongot mempelai wanita kepada Ibunya :
Wo ine o, tar bilangan sijeroh, tar ketike sibise, nge susun lagu belo, nge rempak lagi re, ingi si sara ingini, iyon si sara iyoni, bulet lagu umut, tirus lagu gelas, mugenap pakat, I atani ruhul, I toyohni asa, male munosah bebalun petangasanku, kuraka sebetku, kukaum segenapku, me rai rakan sebetku, mu rai kaum segenapku…  

Pongot Ibu kepada mempelai wanita (Nasehat)
Wo anakku, enti jauh pikirenmu, enti ues atemu, nge edete urum hukume, hadise urum firmane munetahe, nge sawah ate, nge terus hinge e.
Anakku, kutatangen kin beret, kuluahi kin sinte, kin kayu kul pelongohenku, keti kin daling kolak seserenenku, keti mutuah anakku, keti mubahgie anakku, ari kin tempuhku,, ari kin tulungku, kin tempatku kejet, kin tonku menye anakku, kati nguk kin tempuh tulungku, keti nguk kin pembantuku…

Sumber :  
  1. AcehProv.go.id
  2. Lintas Gayo
  3. Created By Riduwan Philly
  4. Lisa Dini (Aceh Tenggara)
  5. Sabri Molisi (Gayo Lues)
      

Berkomentarlah dengan Cara yang sopan dan punya etika, No Bully, No Sara, No Spam dan yang terpenting No Porn, biar Barokah hidup kita!!
EmoticonEmoticon