Sunday, 14 June 2015

Rekam Jejak Kemerdekaan di Lembah Alas


Pengibaran Bendera Merah putih di Stadion H. Syahadat, Kutacane
pada saat upacara kemerdekaan R.I pada tanggal 17 Agustus 2014
Lintas Gayo
            Kutacane (12 Juni 2015), Kemerdekaan Indonesia telah di proklamirkan oleh Soekarno-Hatta atas nama bangsa Indonesia di jalan pegangsaan timur no. 56, Jakarta. pada tanggal 17 Agustus 1945. serentak setelah proklamasi dibacakan dan bendera merah-putih dikibarkan oleh Ilyas karim, Latif Hendraningrat,S. Suhud dan Tri Murti (Pembawa baki pertama Sang Saka Merah Putih). seluruh wilayah Indonesia saat ini menyatakan kesetiaannya kepada Soekarno-Hatta dan Jakarta. tak terkecuali dengan daerah Aceh umumnya dan Aceh pedalaman khususnya (Kabupaten Aceh Tengah, Bener Meriah, Gayo Lues dan Kabupaten Aceh Tenggara), lalu yang menjadi pertanyaan siapa yang membacakan teks proklamasi dan siapa pengibar bendera merah putih dan dimana pula bendera merah-putih berkibar untuk pertama kalinya di  dataran tinggi gayo dan Lembah Alas?, untuk menjawab itu semua, berikut akan saya jelaskan dari sekian banyak informasi yang saya dapat dan saya rangkum menjadi satu artikel yang sederhana, mudah dipahami dan dapat dipertanggungjawabkan materinya.

        Berita kemerdekaan dan pengibaran bendera merah-putih pertama sekali berkibar di negeri serambi mekkah pada tanggal 24 Agustus 1945 di pimpin langsung oleh Teuku Nyak Arief di depan kantornya (Kantor departemen agama aceh sekarang) dan di halaman kantor Shu-chokan Aceh (gedung juang samping Meuligoe Gubernur Aceh sekarang), setelah Kutaraja (Red, Banda Aceh sekarang) mengalami euforia kemerdekaan, Aceh pedalaman mulai mengetahui berita kemerdekaan sangat telat yakni di awal pertengahan september sampai awal oktober 1945 dikarenakan letak geografis yang berada dipedalaman dan sangat sulit ditembus karena hutan yang lebat dan berbukit-bukit.

        Takengon menjadi kota pertama di mana bendera berkibar untuk pertama kalinya di pesanggerahan lut tawar di samping pintu gerbang asrama tentara jepang jalan puteri ijo, Kota Takengon, dengan kata pembukaan oleh Raja Abdul wahab, Raja mukmin sebagai pembaca teks proklamasi, dan yang bertugas menggerek bendera adalah Ali jauhari dan ibnu yogya.
    
       Setelah peristiwa tersebut berturut-turut berita kemerdekaan sampai ke Gayo lues dengan teks proklamsi di bacakan M. Saleh Aman sari, dan di Kutacane dibacakan oleh H.R. Rajat (Sebagai patih kewedanaan Aceh tengah dan anggota DPR Aceh dari partai masyumi) dan di pelopori oleh Abdul Karim, Ginot, Gido Bangko, Khabar Ginting dll, di Tanggal 4 Oktober 1945.

      Pengibaran bendera merah putih di lebah Alas masih sangat simpang siur, tetapi berita yang populer di kalangan masyarakat Kutacane adalah di Asrama kodim (Sekarang gedung ABC Agara) dan menurut badan Pusat Statistik Aceh Tenggara tahun 2014 pembacaan dan pengibaran bendera diadakan di depan kantor pengadilan (Mungkin yang dimaksud pengadilan negeri di Pulonas Sekarang), siapa penggerek dan pembawa bakinya masih menjadi misteri, mungkin harus ada penelitian sejarah untuk membuka kembali pengetahuan kita akan hal ini.

     Setelah berita kemerdekaan telah sampai ke seluruh wilayah Leuser, maka dibentuklah wilayah administratif yakni keluhakan (setingkat kabupaten sekarang) Aceh Tengah, dengan Raja Abdul wahab sebagai luhak (Bupati), dan AR. Hajat sebagai Patih (Sekretaris daerah), setelah dibentuk keluhakan maka dibentuk kewedanaan (setingkat kecamatan) yakni :

  1. Kewedanaan Takengon, dengan wedana Mude sedang.
  2. Kewedanaan Gayo Lues, dengan wedana M. Saleh Aman sari.
  3. Kewedanaan Tanah Alas, dengan wedana Khabar Ginting
    Karena wilayah administratif yang cukup luas dan jarak antara Takengon dengan Blangkejeren-Kutacane sangatlah jauh ditambah dengan alat transportasi yang sangat minim di masa itu, membuat penyelenggaraan administratif di Keluhakan Aceh Tengah sangat lambat ini mendorong rakyat Gayo lues-Alas menuntut pemekaran itu terwujud dengan berdirinya Kabupaten Aceh Tengah pada tanggal 26 Juni 1974 dengan dasar hukum UU No. 4 tahun 1974, Kutacane sebagai ibukota dan H.syahadat sebagai bupati pertama.


Daftar Pustaka :

  1. AR. Latief, Pelangi Kehidupan Gayo dan Alas. Bandung; Kurnia Bupa Bandung, 1995
  2. A.R. Hakim Aman Pinan, Pesona Tanoh Gayo. Takengon; Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah, 2003.
  3. Lintas Gayo edisi hengkangnya-jepang-dan-proklamasi-kemerdekaan-ri-di-takengon.
  4. Dirman Manggeng edisi minggu, 22 november 2009, Kabupaten Birieun

Berkomentarlah dengan Cara yang sopan dan punya etika, No Bully, No Sara, No Spam dan yang terpenting No Porn, biar Barokah hidup kita!!
EmoticonEmoticon