Monday, 31 October 2016

Mengapa di sebut Simpang Mesra, dan sisa Kejayaan Mobil Lobur?


Simpang Mesra Credit : Panoramio



            Bagi mahasiswa lama yang menuntut ilmu di Kota Banda Aceh dan warga  kota Banda Aceh, simpang ini pastilah tak asing lagi didengar, bukan hanya sekedar jalan atau simpang, banyak kenangan yang terjadi di simpang ini, namun lebih dari itu simpang ini merupakan penghubung antara arah pusat kota ke Darussalam tempat berdirinya dua universitas terkemuka di Aceh, Universitas Syiah Kuala dan UIN Ar-Raniry, ditambah juga beberapa universitas swasta dan sekolah dari tingkat SD sampai SMA ada di Darussalam kampungnya para pemuda menuntut ilmu, begitulah niat awal dari para pemimpin Aceh kala itu, dan Presiden pertama Ir. Soekarno didaulat pula untuk meresmikannya. jadi, bisa anda bayangkan sendiri betapa pentingnya simpang ini sebagai penghubung para mahasiswa, pelajar, PNS, pegawai, pedagang dan orang-orang yang memiliki kepentingan lainnya.

            Bagi para mahasiswa baru atau orang yang baru berkunjung pertama kali ke Banda Aceh pastilah rata-rata menyebut simpang ini sebagai tugu pena terbalik, tugu pena terbakar atau apalah sesuai dengan pandangan awal mereka saat melihat tugu ini, begitu juga saya pada waktu awal 2013, saat saya pertama kali menginjakkan kaki di Banda Aceh menyebut simpang ini dengan simpang tugu pena.

            Tak salah juga jika banyak orang beranggapan seperti itu karena memang penampakkan dari tugu ini memang dengan pena sebagai puncaknya, lalu bagaimana sejarah awal nama tugu tersebut? Apakah memang betul sejak awal pendiriannya sudah disebut sebagai tugu simpang mesra? 

            Sebenarnya Tugu itu bernama tugu ‘Tentara Pelajar’ yang dibangun untuk mengingatkan generasi muda akan sepak terjang para pelajar Aceh dalam masa perjuangan melawan penjajah dulunya. Di puncak tugu, ada lambang sebuah pena, sebagai pesan agar generasi muda terus bergiat menambah ilmu. 

            Dikutip dari buku Banda Aceh Heritage, Tentara Pelajar Aceh (TPA) bermula dari kreativitas murid-murid sekolah menengah Koetaradja yang pada Mei 1946 membentuk Ikatan Pelajar Indonesia (IPI) Aceh. Dari sanalah mereka berjuang untuk kedaulatan Indonesia. 

            Tugu dengan tinggi 17 meter dengan diameter bawah 45 meter mengandung nilai-nilai filosofis, idealisme, heroisme, loyalitas, serta semangat persatuan dan kesatuan dari para pejuang pelajar. Tugu dibangun atas prakarsa eks Tentara Pelajar Aceh di bawah pimpinan Amran Zamzami dengan arsiteknya Kamal Arif. Tugu diresmikan Gubernur Aceh, Syamsuddin Mahmud pada 1998.[1]


    Menurut Rusdi Sufa, Sejarawan Aceh, mengatakan lokasi ini disebut Simpang Mesra karena putarannya yang terlalu melengkung. Jika pengendara sepeda motor melewati jalan ini, maka orang yang dibonceng mau tidak mau harus bersandar atau berpegangan erat pada pengemudi sepeda motor. Sehingga setiap orang yang melalui persimpangan tersebut dipaksakan "mesra" menurut keadaan.


            “Sekitaran tahun 80-an lah istilah ini menjadi sebutan bagi masyarakat Aceh yang hingga saat ini masih dengan sebutan tersebut. Dulu ketika orang melewati simpang ini, jika ada istri di belakang memeluk suaminya karena lengkungnya putaran simpang,”kata Rusdi yang juga tercatat sebagai Dosen Sejarah FKIP[2]

Sisa Kejayaan Angkutan Umum Robur Credit : Darman Reubee

            Informasi lainnya juga menyebutkan sejarah awal penamaan Simpang Mesra. Konon di era 80-an, Darussalam dijejali dengan bus produksi India sebagai moda transportasi mahasiswa. Bus ini memiliki tubuh yang lebar dan disebut dengan "Robur atau Lobur". 

            Pada masanya, bus ini menjadi sarana transportasi populer bagi mahasiswa menuju kampus di Darussalam. Selain biayanya murah, bus ini juga kerap disasar para mahasiswa pria lantaran melewati bundaran yang kemudian dikenal Simpang Mesra. 

            Pasalnya, setiap kali bus berbadan besar dan panjang tersebut melewati bundaran ini, maka penumpang yang duduk maupun berdiri di dalam robur akan mengikuti arah badan mobil. Dengan kata lain, mau tidak mau, penumpang akan saling berdempetan antara sesama. Baik itu penumpang pria maupun wanita. 

            Sejak adanya robur tersebut, nama persimpangan yang terdapat Tugu Tentara Pelajar ini kian santer dikenal dengan Simpang Mesra. Kondektur alias kernet bus Robur juga sering menyebutnya dengan Simpang Mesra.

                Robur kini sudah tak lagi beroperasi dikarenakan sudah termakan usia ditambah semakin banyaknya orang-orang memiliki kendaraan pribadi dan angkutan umum yang lebih modren, namun jika ingin melihat sisa-sisa kejayaan robur yang beroperasi mengantar para mahasiswa tahun 80-an kala itu anda bisa melihatnya tergeletak terbengkalai begitu saja tanpa perawatan yang berarti di wisma Unsyiah.


[1] Banda Aceh Tourism”mengenang tentara pelajar di simpang mesra” diakses dari http://www.bandaacehtourism.com/objek-wisata/sejarah/mengenang-tentara-pelajar-di-simpang-mesra/#.WBWABvRUPIU pada tanggal 31 Oktober 2016 pukul 15:15 WIB
[2] Portal Satu “kenapa ada simpang mesra di banda aceh” diakses dari http://portalsatu.com/berita/kenapa-ada-simpang-mesra-di-banda-aceh-2286 pada tanggal 31 Oktober 2016 pukul 15:12 WIB

Berkomentarlah dengan Cara yang sopan dan punya etika, No Bully, No Sara, No Spam dan yang terpenting No Porn, biar Barokah hidup kita!!
EmoticonEmoticon