Wednesday, 21 December 2016

Mandi Meugang Salah Satu Tradisi Unik Dari Kutacane

Mandi Meugang di tepi Sungai Alas
Credit: Dodi Leuser

      AEFARLAVA- Setiap tahunnya satu hari menjelang bulan puasa tiba, ada penampakkan menarik yang harus anda lihat di sepanjang aliran sungai Alas maupun sungai-sungai kecil lainnya yang berada di Kabupaten Aceh Tenggara. orang tua, anak-anak, remaja, muda-mudi tumpah ruah memadati sepanjang aliran sungai Alas kebanggaan orang Kutacane. Mereka datang dengan tujuan yang sama yakni melaksanakan tradisi mandi Meugang, tradisi menyucikan diri dari segala kotoran baik secara jasmani maupun rohani, konon tradisi ini sudah dilaksanakan sejak jaman-jaman sultan Aceh sudah berkuasa di Tanoh Alas, bahkan ada juga pendapat yang mengatakan bahwa tradisi ini merupakan kelanjutan dari budaya Hindu yang masih bertahan dan tetap dilestarikan di Tanah Alas.

       India yang merupakan tempat kelahiran agama Hindu mengenal setidaknya 3 (tiga) tradisi menyucikan diri dengan cara berendam di sungai gangga, yakni:
  1. Makara Sankrati : Berlangsung pada pertengahan bulan januari, umat Hindu melakukan penyucian disungai gangga dengan tujuan untuk memuja dewa surya (Dewa Matahari);
  2. Raksabandha : Berlangsung pada saat bulan purnama berlangsung pada bulan juli-agustus, pagi-pagi hari umat hindu sudah ramai memadati sungai gangga dengan tujuan untuk menguatkan tali silahturahmi diantara mereka;
  3. Vasanta Panchami : Berlangsung pada bulan januari-februari, mereka melakukan penyucian diri untuk menyambut musim semi tiba.
    Tradisi mandi Meugang di Tanah Alas atau di dataran Tinggi Gayo mengenalnya dengan istilah Niri Meugang selain menggunakan media air sebagai tanda penyuciannya juga menggunakan air perasan dari jeruk nipis untuk berkeramas namun dewasa ini air jeruk nipis sudah jarang digunakan dan diganti dengan shampoo yang lebih modren dan praktis penyajiannya, mandi meugang tak hanya sekedar membasahi tubuh semata, namun lebih dari itu tradisi ini berubah menjadi ajang silahturahmi dan mempererat hubungan kekeluargaan diantara masyarakat agara yang tak hanya membawa alat-alat perlengkapan mandi namun juga tak lupa membawa makanan-makanan baik ringan maupun berat seperti nasi, mie dan lain-lain.

      Mandi menjelang puasa juga dikenal di Tapanuli selatan (Mandailing) dengan sebutan marpangir yang menggunakan air rebusan khusus yang dicampur dengan rempah-rempah, di Minangkabau, Bengkulu, Riau, Bangka Belitung  dan daerah-daerah Masyarakat Melayu lainnya mengenal tradisi Balimau yakni mandi dengan air perasan limau (jeruk limau) satu hari sebelum puasa.

     Namun, seiring waktu berjalan, tradisi mandi meugang yang seharusnya bermotifkan penyucian jiwa dan raga sudah disalah artikan dan sangat jauh menyimpang dari tujuan awalnya semula, contohnya adalah kaum muda-mudi agara, dimana muda-mudi seakan mendapatkan lampu hijau dan halal tanpa malu dan merasa bersalah berduaan dengan lawan jenis dan menampakkan auratnya di depan umum pada saat melakukan mandi meugang.


Refrensi :
  1. https://dodileuser.wordpress.com/2013/07/03/tradisi-menyambut-bulan-ramadhan-mandi-meugang/
  2. https://suarakampar.com/berita-balimau-kasai-bukan-ajaran-islam-melainkan-tradisi-hindu.html
  3. https://tirto.id/tradisi-mandi-pangir-hingga-meugang-biWu

Berkomentarlah dengan Cara yang sopan dan punya etika, No Bully, No Sara, No Spam dan yang terpenting No Porn, biar Barokah hidup kita!!
EmoticonEmoticon