Friday, 16 December 2016

Sedikit Cerita asal-usul Kampung Tarandam, Kabupaten Aceh Tenggara


Credit : bachremifananda


            Aefarlava: Assalamualaikum.... Apa kabar semua pembaca blogger yang sangat setia kalau lagi ada maunya, eheheh. Kali ini saya akan sedikit mengulas tentang kampung dan asal kelahiran saya, dimana banyak teman-teman saya yang masih bingung dan penasaran, dari mana asal saya, kebanyakan teman-teman saya menduga bahwa saya adalah orang Alas atau Gayo dilihat dari kabupaten asal saya yakni Aceh Tenggara, yang dominan diisi oleh orang Alas dan Gayo, bahkan yang lebih lucunya lagi ada yang menduga saya adalah orang Jawa mungkin karena wajah saya ada kek manis-manisnya gitu kali ya? ahahah dan ada lagi kadang disebut orang Batak pula, kalau itu saya tak paham lah, tapi tak apa biarkan para jomblo berfantasi liar dengan imajinasinya, ehh, kok larinya menghina jomblo ya? Ahahahah ok fokus dulu dengan asal dan sejarah kampung saya, jika ada kesalahan penanggalan sejarah atau pristiwa saya mohon maaf karena info yang saya dapat berasal dari orang-orang tua di kampung saya berasal, semoga bermanfaat dan menjadi sumber pemberkaya ilmu kita tentang Aceh.

                Saya berasal dari Kampung Tarandam. Kampung Tarandam merupakan salah satu kampung yang berada di Kecamatan Babussalam Kabupaten Aceh Tenggara, namun dengan berlakunya peraturan bupati Aceh Tenggara nomor 11 tahun 2009 tentang penghapusan kelurahan kota kutacane dan pembentukkan kute Terandam kecamatan Babussalam kabupaten Aceh Tenggara, kampung Tarandam yang dulunya termasuk ke dalam kelurahan kota kutacane kini berada di wilayah kute Terandam sebagaimana yang dimuat dalam pasal 4 sebagai berikut:

Pasal 4
1.      Kelurahan yang dihapus sebagaimana yang dimaksud pada pasal 2 dan 3 dijadikan menjadi kute Terandam.
2.      Wilayah dan penduduk kelurahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) menjadi wilayah dan penduduk kute Terandam.

            Kute Terandam terbagi setidaknya 3 (tiga) wilayah yang setingkat dengan dusun yakni Marhamah, Tarandam Kebun dan Terandam. Dulunya hanya ada satu wilayah kampung Tarandam namun seiring waktu wilayah inti kampung Tarandam menjadi bertambah luas hingga terbagi menjadi 3 (tiga) wilayah.
Anak-anak terandam sedang menikmati meluapnya
kali bulan dengan bermain ski ari credit : M. Alizar Bikaufiq Djambak

            Menurut cerita orang-orang tua dulu, dulunya Kampung Tarandam merupakan suatu wilayah yang tanahnya berupa rawa-rawa, dan tanahnya lebih rendah dari kali bulan, sungai yang mengaliri sepanjang perkampungan ini, yang oleh penduduk asli setempat (Suku Alas) enggan mengelola lahan yang berupa rawa dan tanahnya pun lebih rendah dari kali, oleh karena itu mereka memberikan secara Cuma-Cuma kepada orang-orang tua kami dulu yang baru saja datang dari ranah Minang yang lebih tepatnya dari sungailimau, Pariaman yang dipelopori oleh (Alm) Kakek Yatim, (Alm) Abd Rauf, engku Labu dan beberapa kepala keluarga lainnya setidaknya di awal-awal tahun 1950-an. 

Kampung Tarandam Tahun 70-an C: Riduwan Philly

                Jauh sebelum tahun 50-an, menurut info yang saya dapatkan dari situs web Muhammadiyah Aceh, beberapa pemuda yang tidak dijelaskan apakah berasal dari ranah Minang atau suku Alas-Gayo, yang mana setelah mereka kembali dari menuntut ilmu di Tawalib School, Padang Panjang (Sumatra Barat) menyebarkan ajaran Muhammadiyah di Aceh Tenggara sejak 1930-an, namun yang dicatat oleh Muhammadiyah Aceh, sejak 1937 Muhammadiyah Aceh Tenggara telah berdiri.[1]

            Karena tanahnya lebih rendah dari sungai yang mengaliri sepanjang perkampungan , jadilah setiap musim penghujan kampung Tarandam digenangi oleh banjir yang ketinggiannya bisa mencapai sepinggul orang dewasa dan dari situlah asal nama kampung tarandam kampung yang selalu Terendam banjir. 

            Bahkan, dulu kata orang tua saya, sewaktu saudara tertua saya masih dalam ayunan, banjir terparah menerpa kampung, semua penduduk mengungsi ke rumah saudara di kampung sebelah, atau bagi yang tidak mempunyai saudara dikampung sebelah mengungsi ke surau[2] berbentuk panggung bermaterial dari kayu, namun sayangnya surau tersebut malahan begeser beberapa meter dari tempat semulanya , dari kejadian itulah penduduk dikampung Tarandam mulai bahu membahu untuk menganti material masjid dari kayu menjadi beton, agar kokoh jika banjir menerpa kembali sewaktu-waktu.

Gandang Tasa Kebudayaan Minang yang
Masih dilestarikan di Terandam

Bahasa sehari-hari yang digunakan.
            Bahasa ibu di kampung Tarandam adalah bahasa Minang dengan dialek pariaman, namun dewasa ini yang biasa menggunakan bahasa Minang sebagai bahasa pergaulannya hanyalah kaum-kaum tua saja generasi ke-2 kampung, sedangkan generasi ke-3 termasuk saya dan sedang memasuki generasi ke-4, sudah tidak femiliar lagi dengan bahasa asli ibu mereka, alasannya karena orang-orang tua kami enggan mengajarkan bahasa Minang ke anak-anaknya dan lebih suka berbahasa Indonesia di rumah, ditambah dengan perkawinan dengan penduduk asli di Kutacane, membuat bahasa Minang semakin tidak dikenal, bisa jadi suatu saat kenangan asal-usul mereka hanya akan menjadi legenda atau pengantar gosip di waktu senja di kampung Tarandam, sangat disayangkan perlu adanya tanggapan serius menghadapi permasalahan ini.

Mata pencarian
            Kebanyakan masyarakat Tarandam yang bersuku Piliang, chaniago, Sikumbang, djambak, pili, guci bermata pencarian sebagai pedagang, Pegawai negeri sipil, polisi, guru dan ada beberapa yang menggeluti di bidang politik.

Masjid Marhamah tahun 2016 credit : Riski Guci


Kebudayaan Minang yang masih Terjaga.
            Kebudayaan Minang yang masih terjaga di Kampung Tarandam adalah seperti Gandang Tasa, upacara malam bainai, menjemput marapulai pitih panjampuik, tari piring, lukah gilo (sudah lama tak dimainkan) memasak rendang, sala lauak, silek harimau (terakhir populer tahun 2005 saya sempat merasakan belajar silek harimau sebelum masuknya karate dan taekwondo) dan untuk segelintir anak mudanya tetap mempertahankan tradisi merantau yang sudah ada sejak turun temurun meskipun sekrang trennya anak-anak muda tarandam hanya mau tinggal di kampung saja. Mungkin itulah segelintir budaya Minang yang masih dijaga dan dilestarikan oleh orang yang berada di kampung Tarandam, sekian dari saya J


[1] Muhammadiyah Aceh,Profil Muhammadiyah Aceh, http://aceh.muhammadiyah.or.id/content-2-sdet-profil.html, di akses pada tanggal 16 Desember 2016 pukul 17:03 Wib
[2] Surau=Masjid

Berkomentarlah dengan Cara yang sopan dan punya etika, No Bully, No Sara, No Spam dan yang terpenting No Porn, biar Barokah hidup kita!!
EmoticonEmoticon