Saturday, 1 April 2017

Perlawanan Rakyat Agara Di Benteng Kute Likat Dan Nasibnya Kini!!

Tampak Korban bergelimpangan
dari Rakyat Gayo-Alas
di Benteng Kute Likat
C:NetherlandsFotoMuseum

AEFARLAVA (1 April 2017), Benteng pertahanan rakyat Alas di kampung Kute Likat menjadi sasaran kedua bagi serangan kolonial Belanda setelah Kute Reh. Kute Likat termasuk dalam daerah kekuasaan Kejuruan Batu Mbulen. Kute Likat ini dipertahankan oleh orang-orang Gayo Lues keturunan Raja Kemala Derna yang telah lama bermukim di Tanah Alas, ditambah lagi dengan pasukan pejuang Gayo Lues yang mengundurkan diri dari medan perang Gayo Lues, disamping Alas sendiri.

Pada tanggal 20 Juni Van Daalen mengambil keputusan untuk menyerang Kute likat tanpa memberi peringatan terlebih dahulu. Serangan tersebut dilancarkan dengan kekuatan 11 brigade pasukan Marsose. Perlawanan rakyat Alas dengan Pasukan Belanda adalah perlawanan pedang melawan peluru. Akibatnya, pertahanan rakyat Alas-Gayo hancur dan hampir seluruh lelaki dan wanita yang hidup dibinasakan oleh Marsose kecuali hanya tersisa 2 orang saja[1].

Sebelumnya, setelah kekalahan rakyat Alas yang dibantu oleh rakyat Gayo Lues yang mengundurkan diri dari tanah kelahirannya mengundurkan diri kembali ke Benteng Kute Likat yang terletak di Kute Likat yang merupakan salah satu wilayah bagian dari kejuruan Mbatu Mbulan sekarang pada zaman kemerdekaan Kute Likat termasuk kedalam Desa Likat, Kecamatan Bambel, Kabupaten Aceh Tenggara.

Menurut Informasi yang diberikan oleh Berakan (Mata-mata pribumi Belanda anak dari Uwen Berakan, Raja Mbatu Mbulen yang masih tetap menentang keberadaan Belanda di Tanah Alas) bahwa benteng Kute Likat telah dipersiapkan dengan sangat matang jauh-jauh hari  baik pria, wanita dan anak-anak bahu membahu memperkuat benteng tersebut, dan bahkan dari informasi yang dihimpun oleh Berakan, Uwen Berakan ayahnya bersama penghulu cik (Haji Ja’far Alias Uwen Kahar) sedang berada di dekat pegunungan Perat dan akan segera menuju dan memperkuat benteng Likat.

Tanggal 17 Juni, Benteng Kute Likat yang dipertahankan oleh para syuhada rakyat Alas-Gayo menolak dengan tegas untuk tunduk kepada Kaphe Belanda yang hendak menjajah negeri mereka, bagi mereka lebih baik mati berlumur darah dari pada hidup bergelimang harta tapi dijajah oleh Kaphe Belanda, pesan ini pun disampaikan oleh Penghulu Mbiak Muli dan Haji Deris yang telah berdamai dan tunduk pada tangan pasukan Belanda pimpinan Kapten Van Daalen setelah berhasilnya benteng Kute Reh dikuasai.

Mendapat informasi dari Penghulu Mbiak Muli dan Haji Deris, Van Daalen mengutus perwiranya Kapten Stolk untuk melihat secara lebih jelas bagaimana pertahanan yang dibangun di benteng tersebut selama perjalanannya ke Benteng Likat, kapten Stolk dan pasukannya mendapatkan serangan secara sporadis dari kelompok kecil pejuang Alas, pada saat penyerangan kedua pasukan pimpinan kapten Stolk berhasil menahan 5 orang pejuang Alas salah satunya termasuk Haji Ali dan keluarga Kejurun Batu Mbulen. Dalam pemeriksaan ditemukan cap Kejurun dari Sultan Aceh Darussalam, barang-barang dan beberapa jumlah uang dari tangan Haji Ali. Dari gambaran yang didapat oleh kapten Stolk benteng likat yang dibangun oleh pasukan Alas yang dibantu oleh rakyat Gayo Lues yang mengudurkan diri tak begitu jauh perbedaannya dengan benteng-benteng terdahulu yang telah ditundukkan oleh pasukan Van Daalen di Tanoh Gayo Lues maupun di benteng Kute Reh.

20 Juni Van Daalen mengambil keputusan untuk menyerang Kute Likat tanpa memberikan suatu ultimatum atau sebuah peringatan yang biasa dan lazim dilakukan dizaman itu apabila akan dilakukan sebuah peperangan. 

Serangan ke Kute Likat dilancarkan dengan kekuatan 11 brigade pasukan Marsose. Empat brigade dipimpin oleh Winter dibantu oleh Letnan Christoffel, Tiga brigade di bawah pimpinan Letnan Watrin dibantu oleh Letnan Sraam Morris yang merupakan pasukan penggempur. Selain itu, 3 seksi di bawah Kapten de Graaf dan Deigorde ditugaskan mengawasi lapangan dan pasukan kesehatan termasuk ambulan yang dibantu pula oleh 250 orang hukuman/pemikul barang yang berasal dari Tanah Jawa, Batak dan Maluku. Segera setelah komando penyerbuan itu dikeluarkan, maka pasukan penggempur segera bergerak mengepung Kute Likat berdasarkan rencana yang telah ditetapkan. Setiap pasukan bergerak menuju titik sasaran tanpa mengeluarkan tembakan. Baru setelah seluruh pasukan mencapai titik sasaran di sekeliling dinding kute, secara serentak pasukan Marsose menaiki dinding benteng dengan bedil dan bayonet terhunus.

 Dari atas dinding benteng mereka melepaskan tembakan gencar ke dalam benteng. Serangan itu segera mendapat balasan dari pasukan rakyat. Rakyat menyerang pasukan Marsose dengan bersenjata pedang dari tempat-tempat persembunyian mereka. Dengan senjata bedil dan tombak serta pedang terhunus mereka menyerbu secara berkelompok maupun secara perorangan ke tengah-tengah pasukan Marsose tanpa memperdulikan hujan peluru yang diarahkan kepada mereka. Di sektor lambung kiri pertahanan rakyat sangat kuat dan sangat sukar ditembus. Mereka bertahan di atas tangga-tangga bambu dan tidak mau beranjak dari sana, bertahan dengan nekad dan fanatik sampai mereka terjatuh oleh peluru.
Perang antara pedang lawan peluru juga terjadi dalam benteng itu. Baik pria maupun wanita sama-sama memegang pedang dan tombak untuk menghalau musuh. Semangat bertempur yang membara menyebabkan mereka tidak takut kehilangan nyawa.

Pasukan Marsose dengan persenjataannya yang modern mempergunakan kesempatan itu untuk menghancurkan dan membunuh semua penduduk yang mereka jumpai dalam benteng. Hampir seluruh lelaki yang hidup dibinasakan oleh serdadu Marsose kecuali hanya tersisakan 2 orang saja. Walaupun semangat bertempur yang tinggi dari rakyat, tetapi karena keunggulan senjata dan taktik perang pasukan Marsose, Kute Likat akhirnya jatuh ke pihak Belanda.

Seperti biasanya Kempees mencatat korban-korban dalam pertempuran ini. Kali ini korban pihak Alas adalah 432 orang tewas, di antaranya 220 orang pria, 124 wanita, dan 88 orang anak-anak. Korban yang luka-luka berat dan ringan 51 orang, di antaranya 2 orang pria, 17 orang wanita, dan 32 orang anak-anak. Yang kedapatan masih hidup hanya 7 orang anak-anak. Korban pihak Belanda adalah 19 orang, di antaranya 1 orang mati, 18 orang luka-luka termasuk Let. Kol. Van Daalen sendiri dan Kapten Watrin luka berat. Selama pertempuran 5.500 peluru telah ditembakkan, dan 87 pucuk senjata rakyat Alas dapat dirampas oleh Belanda.

Tokoh penting Aman Jata yang telah dikejar-kejar semenjak di Kute Lintang, Gayo Lues, yang mula-mula mengundurkan diri ke Kute Badak, kemudian ke Kute Rikit Gaib, kemudian ke Kute Penosan, Tampeng dan kemudian mengundurkan diri ke daerah Alas ternyata telah menggabungkan diri dengan pejuang Alas yang mempertahankan Kute Likat. Akan tetapi dalam pertempuran di Kute Likat itu, Aman Jata berhasil lolos dan kembali lagi ke daerah Gayo Lues. Dia tetap tidak mau menyerah kepada Belanda. Bagaimana nasib ia selanjutnya tidak diketahui[2].

Namun sayang, besarnya pengorbanan para pejuang Tanoh Alas melawan penjajahan Belanda seakan tidak diperdulikan sama sekali oleh pemerintah Aceh Tenggara dewasa ini hal ini terbukti dengan beredarnya kabar bahwa benteng likat dengan luas 2 Hektar telah dialih fungsikan menjadi kebun dan bahkan menjadi perumahan warga nantinya yang tidak memiliki lahan dengan alasan telah lama menjadi kebun mereka. Menurut Sudirman S,pd kepal desa Likat situs sejarah ini tidak pernah dilestarikan oleh pemerintah, sehingga banyak warga yang tidak mengetahui, area itu sebagai arena perlawanan para syuhada melawan Belanda. Dia menyebutkan, dari yang diketahuinya, terdapat dua makam pahlawan perjuangan Kemerdekaan RI yang telah ditumbuhi semak-semak, pohon kelapa, kakao dan komoditi lainnya (2013)[3] semoga diharapkan dengan terpilihnya bupati pilihan rakyat agara priode 2017-2022 kali ini lebih memperhatikan situs-situs bersejarah yang ada di Kabupaten Aceh Tenggara, Sejarah kita terdahulu adalah jati diri kita sekarang, jangan sekali-kali melupakan sejarah, sejarah adalah suatu cara yang paling tepat untuk membangun suatu negri agar tak tergelincir kedua kalinya terhadap sejarah yang sama.


[1] Kemendikbud.go.id
[2] Di Akses dari http://rakaiskandar.blogspot.co.id/2009/02/perlawanan-rakyat-di-kute-likat.html pada pukul 15:28 WIB Tanggal  01 April 2017
[3] Diakses dari http://aceh.tribunnews.com/2013/04/03/situs-sejarah-jadi-perumahan pukul 15:36  tanggal 01 April 2017

Berkomentarlah dengan Cara yang sopan dan punya etika, No Bully, No Sara, No Spam dan yang terpenting No Porn, biar Barokah hidup kita!!
EmoticonEmoticon