Monday, 25 September 2017

Prosesi Pemamanan Suku Alas

Pemamanan C:jkma-aceh



Suku Alas adalah suku asli yang mendiami wilayah Kabupaten Aceh Tenggara, Provinsi Aceh, Indonesia. Mereka menyebut diri mereka dengan istilah “ukhang Alas” atau “kalak Alas” dan wilayah tempat tinggal mereka disebut “Tanoh Alas”

Kata “Alas” sendiri dipercayai berasal dari bahasa Gayo yang memiliki arti “tikar”, hal ini dilatarbelakangi dengan bentuk geografis “Tanoh Alas” yang membentang luas dan datar di tengah-tengah kaki gunung leuser dan bukit barisan. 

Mayoritas pekerjaan dari masyarakat Suku Alas adalah sebagai petani, pekebun, pengutip hasil hutan dan juga peternak.

Hewan ternak yang diternakkan oleh mereka adalah seperti kambing, ayam, bebek, angsa, kerbau, sapi, dan juga kuda. Konon, Kuda sendiri sudah lama di ternakkan oleh Masyarakat Suku Alas jauh sebelum kedatangan bangsa penjajah Belanda pimpinan Kolonel Van Daalen ke Tanoh Alas tahun 1904.

Kuda bagi adat Suku Alas sangat penting dan vital keberadaannya, berbeda dengan kuda yang ada di Gayo, umumnya kuda Gayo digunakan untuk pacuan kuda, membantu berladang atau bahkan dikonsumsi dagingnya, di Tanoh Alas penggunaan kuda hanya untuk kegiatan-kegiatan adat tertentu saja, seperti prosesi adat “pemamanan” (prosesi adat khitanan anak laki-laki).

Pengertian dan Peran Vital Sang Paman
 
Pemamanan sendiri dalam istilah erat kaitannya dengan kata "Paman" yakni laki-laki dari garis keturunan ibu (Red-Adik atau kakak ibu), yang mana jika kita artikan secara harfiah "Pemamanan" adalah sebuah tanggung jawab yang diberikan kepada sang paman untuk melaksanakan segala keperluan dalam prosesi khitanan sang keponakan baik dalam menyiapkan dana pesta, ketersedian kuda, dan bahkan segala keinginan yang diinginkan oleh sang ibu keponakan.

Biasanya, dalam mengumpulkan dana, paman tak akan sepenuhnya menanggung beban prosesi khitanan sang keponakan, paman akan membuat sebuah acara kenduri (Hajatan) dengan memanggil tetangga-tetangga sekampung atau saudara dekat lainnya, dan sang paman akan mengutarakan niat untuk melaksanakan prosesi pemamanan bagi keponakannya, maka masyarakat yang datang diminta membantu seikhlasnya agar prosesi khitanan dapat berjalan lancar, dalam kegiatan kenduri ini akan terlihat nampaknya rasa gotong royong diantara masyarakat sekitarnya yang terjalin erat.

Sekilas, tanggung jawab yang dinisbatkan kepada paman akan menjadi beban, baik beban ekonomi maupun beban moral. Beban bagi paman yang ekonominya menengah ke bawah, tidak tertutup kemungkinan ia akan berutang ke selingkar demi mengabulkan permintaan ibu keponakan. Di sinilah martabat paman sangat disanjung-saji.

Beban ekonomi sejalan dengan beban moral. Seorang paman yang tidak turut membantu tidak akan ditulis namanya di “buku keluarga” yang menggelar pesta. Berapa pun atau apa pun bentuk sumbangan si paman akan dicatat dalam “buku keluarga”. Di sini moral seorang paman dipertaruhkan. Biasanya, tidak ada paman yang tidak mau menyumbang, mengingat namanya akan dicatat di “buku keluarga” dan dibacakan dalam musyawarah keluarga.

Menurut orang setempat, perkara utang-piutang para paman selepas acara pemamanan sudah menjadi lumrah sejak dulu kala, sejak tradisi pemamanan mulai ada dalam masyarakat Alas. Hanya saja, bentuk pemberian paman berubah disesuaikan tuntutan zaman. Zaman dulu belum ada yang minta kulkas. Seorang paman hanya menyediakan kambing atau lembu. Sekarang, si paman kadang juga harus memberikan kulkas bahkan sepeda motor, tergantung apa yang diminta oleh ibu yang menikah. Singkatnya, paman adalah tulang punggung setiap keponakan.

Ada ubi ada talas, ada bagi ada balas, begitulah tradisi Alas mengatur semua. Dalam kearifan suku Alas, paman paling dimuliakan. Jika terdengar kabar paman akan berkunjung ke rumah keponakannya, keluarga keponakan sibuk mempersiapkan segala hal sambutan bagi si paman. Semua isi dapur, segala isi karung, segenap isi rumah akan ‘dikeluarkan’ untuk penyambutan paman. Paman lebih dimuliakan daripada pakcik (adik ayah). Tentu saja hal ini bentuk berbalasan dari pemamanan.

Tradisi Alas juga mengenal peninian, yakni pelimpahan tanggung jawab kepada saudara mamak dari ibu yang anaknya akan melangsukan pesta. Artinya, kakek/nenek si anak dari sebelah ibu. Jika seorang anak tidak memiliki paman, tanggung jawab pesta dibebankan dalam peninian. Jika paman masih ada, acara pemamanan akan berlangsung beriringan dengan peninian

Kendati tugas paman terkesan berat, hal ini sudah menjadi tradisi yang dipegang erat oleh suku Alas. Timbang rasa berlaku bagi paman yang bukan suku Alas. Misalnya, seorang perempuan suku Aceh menikah dengan lelaki suku Alas. Si perempuan punya saudara laki-laki, tentu si lelaki menjadi paman. Paman yang seperti ini tidak dituntut pemamanan selayaknya paman yang benar-benar suku Alas.

Pemamanan hanya diutamakan kepada paman yang suku Alas. Ada garis keturunan yang dicermati, apakah dia turunan asli Alas atau pendatang. Artinya, paman yang bukan suku Alas asli, masih ada keringanan. Di sinilah kearifan pemamanan berlaku [1].

Prosesi Acara Pemamanan
 
Bagi anak laki-laki muslim yang mau mencapai akil baligh (dewasa), diwajibkan baginya untuk dikhitan terlebih dahulu. Uniknya, sebelum prosesi khitanan ini berlangsung, masyarakat Suku Alas yang beragama Islam yang taat mewajibkan sang anak terlebih dahulu diarak satu kampung atau bahkan ada yang mempraktekkan mengarak sang anak sampai empat atau lima kampung sekaligus dengan menggunakan kuda, hal ini didasari agar semua sanak famili yang berada diluar kampung tempat tinggal sang anak dapat juga melihat sang anak menaiki kuda tanda sang anak sudah siap untuk di khitan.

Kegiatan unik ini biasanya dilakukan pada saat bulan baik menurut agama Islam dan juga menyesuaikan jadwal sekolah sang anak seperti liburan semester sekolah.

Sebelum diarak menaiki kuda, pagi harinya sang Anak lelaki  terlebih dahulu di peusijuk atau dalam bahasa Melayu dikenal dengan istilah tepung tawar oleh ulama setempat dengan do’a-do’a yang baik bagi kesehatan dan masa depan sang anak kelak.

Setelah prosesi Peusijuk selesai, siang harinya diadakan acara mangan alak atau makan bersama-sama saling berhadap-hadapan satu sama lain oleh seluruh keluarga besar sang anak dan juga tetangga dari keluarga sang anak, hal ini bertujuan agar mempererat tali silahturahmi antar keluarga besar yang jarang berjumpa satu sama lain dan juga dengan masyarakat sekitarnya.

Saat prosesi mangan alak, berlangsung, sang paman sebagaimana  dijelaskan diatas adalah penanggung jawab penuh segala kegiatan prosesi pemamanan sudah sibuk mengurus acara puncak khitanan sang keponakan, menurut adat suku Alas, sebagaimana yang dijelaskan diawal tulisan, kuda yang dinaiki oleh keponakan adalah kewajiban dari sang Paman.

Barulah apabila sang paman, sudah merasa semuanya terpenuhi maka acara pemamanan dilaksanakan saat itu juga selepas prosesi mangan alak. sang anak yang memakai baju mesirat (baju adat alas) lengkap dengan inai ditangan dan kakinya diarak menaiki kuda bersama kedua orang tua dan keluarga dekat mereka.
Usai arak-arakan tersebut usai, biasanya selesai sebelum ba'da maghrib mengumandang, sang paman mulai sibuk lagi menyiapkan puncak khitanan sang keponakan.

Khitanan umumnya dilakukan selepas ba’da isya, yang dilakukan di halaman rumah oleh matri sunat atau dokter yang berwenang.

Khitanan sendiri harus disaksikan oleh keluarga inti. Pada saat sang anak akan di khitan sang Ibu beserta 2 orang bibi mereka harus merendam tangan ke air yang ditempatkan di dalam baskom [2]. Air tersebut diberi perasan jeruk purut. Mereka tidak boleh mengangkat tangan hingga proses khitan selesai. Hal tersebut diyakini agar sang anak yang dikhitan tidak merasakan rasa sakit yang amat parah.

Setelah sang matri sunat atau dokter yang berwenang selesai melakukan tugasnya, sang anak akan dipindahkan ke dalam rumah dan ditidurkan diatas tilam dengan kelambu terbuat dari motif sirat Alas, dan selama beberapa hari sang anak akan dijaga oleh keluarga sang ayah dan ibu.

Lamanya prosesi pemamanan ini tergantung keadaan ekonomi dari sang paman, jika sang paman memiliki ekonomi yang baik bisa jadi acara sebelum hari puncak pemamanan mencapai tujuh hari tujuh malam.

Refrensi:

  1. http://www.jkma-aceh.org/tradisi-pemamanan-dari-alas/
  2. http://setiadisejati.blogspot.co.id/2012/07/tradisi-khitan-masyarakat-alas-kutacane.html


Saturday, 9 September 2017

Sejarah Terbentuknya Tanoh Alas (Versi Yakub Pagan, 1982)

Sungai Alas tampak dari Udara
Credit:Davidagr.blogspot,com
Lokasi : Kabupaten Aceh Tenggara, Aceh, Indonesia
Narasumber : Yakub Pagan
Tanggal : 20 Agustus 1982
Credit : Margaret J. Kartomi
Type : Soud Recording
Penulis Alur Cerita : Riduwan Philly
Tanggal : 09 September 2017
Genre : Mitologi, Sejarah

Aefarlava- Menurut keterangan yang diberikan oleh Bapak Yakub Pagan yang mana suaranya telah direkam dalam type recording pada tanggal 20 Agustus 1982 oleh Margaret J. Kartomi. 

Dulunya, jauh sebelum kedatangan masyarakat Alas ke Tanah Alas yang sekarang wilayah tersebut termasuk kedalam wilayah administratif Kabupaten Aceh Tenggara merupakan wilayah yang dipenuhi oleh air yang membentuk sebuah danau yang luas menutupi hampir keseluruhan wilayah Aceh Tenggara dewasa ini.

Lanjut dari rekaman tersebut, Pak Yakub berkeyakinan bahwa masyarakat Tanah Alas yang mendiami wilayah Aceh Tenggara dewasa ini berasal dari salah satu wilayah di Aceh Selatan, ia meyakini berdasarkan cerita dari nenek moyangnya nama wilayah tersebut adalah danau laot bangko.

Kalau kita cari lebih dalam lagi di peta Indonesia danau laot bangko merupakan danau dengan wilayah yang dikelilingi oleh pegunungan hutan hujan tropis yang termasuk ke dalam wilayah administratif desa ujung pandang, kecamatan Bakongan, Kabupaten Aceh Selatan.

Konon, dulunya di sekitaran danau ini berdiri kerajaan laut bangko yang sempat mencapai puncak kejayaannya tempo dulu, dengan raja terakhirnya bernama Raja Malinda dengan permaisurinya  Rindi, sepeninggalan sang Raja terakhir, kerajaan ini mengalami bencana banjir besar yang menenggelamkan kerajaan ini (Bukhari Dkk, 2008:12).

Akibat banjir bah besar yang melanda kerajaan laut bangko, membuat masyarakatnya menyebar ke wilayah-wilayah sekitarnya seperti Tanoh Alas, Singkil, Tanah Karo,Tanah Batak dan ada juga sebagian yang masih bertahan di Bakongan dengan mencari dataran yang lebih tinggi lagi, sehingga dipercayai sebab itulah yang menyebabkan adanya persamaan dan kemiripan bahasa Alas, bahasa Kluwat,Bahasa Singkil, Bahasa Karo, dan Bahasa Batak.

Senada dengan folklore (Sejarah Lisan) yang berkembang di Bakongan, menurut Pak Yakub Pagan, Danau Laot Bangko telah berdiri sebuah kerajaan yang cukup jaya pada masanya dengan seorang raja dengan tujuh orang anak, sang raja yang sudah berumur lanjut, mulai memikirkan siapa penerus yang pantas untuk menggantikan dirinya sebagai raja, diapun meminta anak-anaknya yang berjumlah tujuh orang tersebut agar bersabar menunggu keputusan akhir darinya.

Keputusan akhir telah dibuat oleh sang Raja, maka sang raja dengan segala pertimbangannya menunjuk anak paling bungsu sebagai penerus takhta kerajaan Laut Bangko, namun. konflik keluarga pun timbul akibat penunjukkan yang diluar dari dugaan semua orang, sebagai mana lazimnya pada zaman dahulu, biasanya yang menjadi penerus takhta seorang raja yang berdaulat adalah putra mahkota atau anak paling tua dari seorang permisuri yang diakui oleh kerjaan.

Akibat penunjukkan tersebut, muncullah pembangkangan keenam orang anak raja yang lainnya, mereka beranggapan si bungsu tidak lebih layak menjadi seorang raja dari pada seekor anjing hitam yang mereka pelihara.

Akibat kegadohan antar sesama keluarga kerajaan tersebut membuat datanglah seorang Wali (makhluk gaib) dengan tujuan menghentikan pertikaian keluarga tersebut, wali tersebut  membawa sebuah tongkat yang ia tancapkan kedalam dalam perut bumi, lalu dengan sigap sang wali mencabut kembali tongkat tersebut, seketika muncullah air yang mengucur dengan sangat derasnya keluar dari tempat tongkat ditancapkan oleh sang wali.

Air yang mengalir dengan sangat deras tersebut telah menenggelamkan keseluruhan kerajaan laot bangko dengan sekejap mata saja, yang mengakibatkan sang raja tak mampu bertahan lagi dan hilang ditelan air bah yang mengalir deras tanpa hentinya.

Berbeda dengan sang raja, ketujuh anak raja berhasil menyelamatkan diri mereka masing-masing dengan bantuan barang-barang yang mereka temukan disekitar mereka, ada yang memegang papan bangko (menurut keterangan Pak Yakub, papan bangko adalah alat untuk sandaran menenun), sebagian anak lainnya memegang batang cibro, ada juga yang memegang batang kayu pine (Pinus), sebagian lagi menggunakan papan Lagan/penggilingan cabe (Konon zaman itu penggilingan cabe dalam ukuran yang besar), dan ada juga yang menggunaka kayu medang.

Alat-alat tersebut mereka gunakan untuk menyelamatkan diri dari air bah yang melanda kerajaan mereka, akibatnya ketujuh anak raja tersebut terpencar ke wilayah-wilayah yang berbeda-beda satu sama lain. ada yang ke Tanah karo, Tanah Tapanuli, dan ada juga yang terdampar di wilayah yang berbatasan dengan kabupaten Aceh Tenggara saat ini yakni lau baleng, namun  dari ketujuh anak tersebut belum ada satupun yang terdampar ke Tanah Alas.

Setelah beberapa tahun berlalu setelah pristiwa banjir bah itu terjadi terdengar kabar, bahwa Tanah Alas yang dulunya merupakan sebuah danau besar kini sudah mengering dan menjadi daratan yang sangat luas dan datar.

Maka dengan inisitif diri sendiri ketujuh orang anak raja laut bangko tersebut menuju daratan baru yang kini kita kenal dengan sebutan Tanah Alas, Pak Yakub Pagan meyakini bahwa, nama Tanah Alas sendiri berasal dari bahasa Karo dari anak raja laut bangko yang sudah lama bermukim di tanah karo, Alas sendiri berasal dari kata Ahh Las (Bahasa Karo yang artinya aduh panas) berunjuk kepada cuaca Tanah Alas yang cenderung lebih hangat daripada wilayah-wilayah karo yang lebih berhawa dingin (seperti Tiga binanga, Bukit Gundaling, brastagi, kaban jahe, dan daerah lainnya di dataran tinggi karo).

Namun versi lainnya mengatakan, bahwa kata Alas berasal dari Bahasa Gayo yang artinya adalah Tikar, berunjuk kepada wilayah Tanah Alas yang wilayahnya cenderung membentang datar seperti tikar berbeda dengan wilayah-wilayah dataran Tinggi Gayo yang cenderung bergunung-gunung dan sangat sulit menemukan dataran yang rata di sana.

Akhirnya ketujuh anak putra raja laut bangko tersebut berjumpa kembali di Tanah Alas, dan membentuk klan-klan atau marga-marga yang berunjuk kepada alat yang mereka gunakan untuk menyelamatkan diri dari air bah yang besar tersebut, anak yang menggunakan Lagan sebagai sandarannya menerjang air bah yang menghantam kerajaan laut bangko keturunannya dipanggil dewasa ini dengan marga pagan,  anak yang menggunakan papan bangko keturunan selanjutnya disebut dengan marga bangko, anak yang memakai kayu cibro keturunan selanjutnya disebut marga bruh, anak yang menggunakan kayu pine dikenal dengan marga pinim dan anak yang menggunakan kayu medang, keturunan selanjutnya dipanggil dengan marga sekedang.



Sumber :
  1. http://acehplanet.com/mengarungi-laut-bangko-di-bakongan/
  2. https://figshare.com/articles/Sumatra_61_Kutacane_Aceh/5064457

Friday, 8 September 2017

Malam Bainai (Lirik Lagu Minang Beserta Artinya Bahasa Indonesia)

Cipt : NN
Diopulerkan : Elly Kasim
Bahasa : Minangkabau 

Aefarlava (08 September 2017)  Sebagai pembuka postingan kali ini kami ingin menjelaskan terlebih dahulu apa itu malam bainai, Secara harfiah bainai artinya melekatkan tumbukan halus daun pacar merah yang dalam istilah Sumatera Barat disebut daun inai ke kuku-kuku jari calon pengantin wanita. Tumbukan halus daun inai ini kalau dibiarkan lekat semalam, akan meninggalkan bekas warna merah yang cemerlang pada kuku.

Malam Bainai biasanya dilakukan pada saat satu malam sebelum esok harinya dilakukan persepsi pernikahan antara anak daro dan marapulai. malam bainai juga identik dengan malam terakhir bagi seorang wanita menjadi wanita lajang sebelum esok harinya sah menjadi istri orang lain, nah sudah paham kan apa itu malam bainai, sedangkan lagu malam bainai yang dipopulerkan oleh Mandeh Elly Kasim menceritakan tatacara ritual pernikahan dalam anak minang saat malam bainai berlangsung, tak usah berlama-lama lagi sekarang cekidots kita lihat lirik dan artinya yang penasaran berikut....
 
Malam-malam baiko yo mamak
Malam-malam bainai yo sayang
Malam-malam baiko yo mamak
Malam-malam bainai yo sayang

Anak daro yo mamak, jo marapulai – 2x

Malam-malam kaduo yo mamak
Manatiang-natiang piriang yo sayang

Malam-malam kaduo yo mamak
Manatiang-natiang piriang yo sayang

Sambanyo lamak yo mamak, si gulai kambiang – 2x

Baselo jo basimpuah yo mamak
Di bawah-bawah tirai yo sayang 2x

Bujang jo gadih yo mamak, banyak maintai – 2x

Cincin-cincin dicabuik yo mamak
Di jari-jari manih yo sayang 2x

Marapulai galak yo mamak, anak daro manangih – 2x

Malam-malam katigo yo mamak
Malam-malam bajapuik yo sayang

Marapulai tibo yo mamak, anak daro takuik – 2x

Artinya... 
Malam-malam yang ini ya mamak
Malam-malam berinai (acar) ya sayang

Anak daro (pengantin wanita) ya mamak dengan marapulai (pengantin pria)

Malam-malam kedua ya mamak
Menenteng-nenteng piring ya sayang.

Sambalnya lezat ya mamak, si gulai kambing.

Bersila dengan bersimpuh ya mamak
Dibawah-bawah tirai ya sayang.

Bujang (laki-laki singel) dengan gadih (wanita singel) banyak melihat.

Cincin-cincin di cabut yo mamak
Di jari-jari manis yo sayang

Marapulai tertawa lepas ya mamak, anak daro menangis.

Malam-malam ketiga ya mamak
Malam-malam bajapuik ya sayang

Marapulai tiba ya mamak, anak daro takut (rasa cemas detik-detik terakhir masa lajangnya)
 

Thursday, 7 September 2017

Wanita Ber-Sweater Sweet (Bagian 3)

***
Setelah aku berlari sekencang-kencangnya, menjadi pengecut pada saat itu juga, lalu timbullah rasa penyesalanku, betapa lemahnya diriku didepan wanita yang aku suka, namun tetap saja ada rasa bahagia akhirnya ada kesempatan bisa lebih dekat lagi nantinya dan yang terutama aku bisa tau harus kemana mencarinya

Dua minggu sejak perjumpaan aneh itu, aku tak lagi berminat menjalin silahturahmi ke kampung Wanita Ber-Sweater Sweet tinggal. sampai pada suatu ketika bertepatan dengan hari kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-71, kami anak-anak kkn harus mengadakan kegiatan tujuh belasan.

Menurut keterangan para orang-orang tua di kampung tempat aku tinggal, dalam sejarahnya sampai saat ini belum pernah kampung ini mengadakan kegiatan tujuh belasan, banyak alasan mengapa kegiatan di hari sakral bagi bangsa Indonesia ini tidak dilaksanakan mulai dari tidak amannya kondisi dulu dimasa konflik sampai pada kekurangan sumber daya, jadi selama beberapa tujuh belassan kebelakang mereka hanya mengikuti kegiatan di kantor camat mereka saja atau melihat ke kantor bupati festival busana daerah yang diperankan oleh anak-anak sd.

Untuk itulah membuat aku termotivasi melaksanakan kegiatan ini, namun masalah muncul lagi, kami kekurangan dana serta kelompok kami kekurangan anggota laki-laki, kami hanya mempunyai satu orang laki-laki, yaitu aku.

Kami memutar otak untuk mengakali semua permasalahan ini, maka muncullah sebuah ide dengan menggabungkan tiga gampong yang saling berdekatan untuk dapat membuat sebuah kegiatan tujuh belas agustus secara bersamaan.

Memang ide yang berlian, namun timbul rasa tak pedeku jika harus berjumpa lagi dengan Wanita Ber-Sweater Sweet, apa aku harus jadi batu lagi seperti dulu, namun ide tersebut diterima semua oleh anggota kelompokku maka mau tak mau ide itu harus dilaksanakan.



***
Esok harinya. maka berangkatlah aku menuju gampong gureb blang untuk menyampaikan niat kelompok kami mengadakan kegiatan tujuh belasan secara bersama-sama. anggota kelompok buket pala sebelumnya sudah  aku sampaikan melalui pesan WA dan jawaban ketua kelompoknya adalah setuju.

"Ehhh, ke aja ya yang bilang ke ketua kelompoknya"

"lah, kok aku, ke kan ketuanya" salah satu anggota kelompok yang aku bawa menjumpai kelompok gureb blang menggerutu tidak setuju dengan permintaanku jadilah aku memberanikan diri untuk mendatangi basecam mereka.

"Assalamualaikum...."

"Waalaikumsalam, cari siapa ya?"

"ehh,anuu, cari anuu"

"Anuu? anu siapa bg?"

"........." tak ada lagi kalimat yang bisa aku ucapkan Wanita Ber-Sweater Sweet yang langsung menyambutku, tak bisa lagi aku ucapkan, gaya batu adalah cara terakhirku, melihat aku tak bisa lagi berbicara banyak, dengan sigap anggota kelompokku mengambil alih pembicaraan, mengutarakan niat kami, namun ternyata anggota kelompok dan ketuanya sedang tidak ada di basecam, mereka sedang melakukan proyek kkn penyuluhan pertanian di sawah.

tau apa yang aku lakukan saat mereka berbicara? aku hanya diam, iya diam. konsisten dengan kebisuanku, sampai sebuah tangan dengan cepat menangkap lenganku dan menarik kebelakang, anggota kelompokku ternyata sudah beberapa kali memanggilku untuk pulang pembicaraannya dengan Wanita Ber-Sweater Sweet telah usai selama jurus membatuku beraksi.

Kali ini gagal lagi aku untuk hanya sekedar berbicara lancar didepannya, tapi untuk ketiga kalinya aku tak bisa gagal lagi. aku harus belajar dengan seseorang untuk mengatasi permasalahan yang memalukan ini.....(Bersambung)


Sunday, 3 September 2017

Mitha Talahatu-Satu Kesempatan (Lirik Lagu Ambon Populer 2017)

Mitha Talahatu C: Fb
Judul : Satu Kesempatan
Voc : Mitha Talahatu
Cipt :
Tahun : 2017
Bahasa : Ambon/Maluku

Beta seng sangka ale mau biking bagini...
Sayang beta pung hati ini paling mencintai...
Seng sama yang dolo, se sayang cuma par beta...
Skarang samua baroba, se akhiri cinta ini...

Cinta ini mo kasih akang par sapa...??
Sayang ini mo taruh akang di mana??
Masih ada ka seng tampa cinta ini, singgah di seng pu hati lai??

Beta so paling cinta, cinta par ale...!!!
Beta terlanjur sayang cuma par ale...!!
Masih bisa ka seng satu kesempatan ulangi kisah ini??

Intro..dolo...

Sayang beta pung hati ini paling mencintai...
Seng sama yang dolo, se sayang cuma par beta...
Skarang samua baroba, se akhiri cinta ini...

Cinta ini mo kasih akang par sapa...??
Sayang ini mo taruh akang di mana??
Masih ada ka seng tampa cinta ini, singgah di seng pu hati lai??

Beta so paling cinta, cinta par ale...!!!
Beta terlanjur sayang cuma par ale...!!
Masih bisa ka seng satu kesempatan ulangi kisah ini??

Cinta ini mo kasih akang par sapa...??
Sayang ini mo taruh akang di mana??
Masih ada ka seng tampa cinta ini, singgah di seng pu hati lai??

Beta so paling cinta, cinta par ale...!!!
Beta terlanjur sayang cuma par ale...!!
Masih bisa ka seng satu kesempatan ulangi kisah ini??

Saturday, 2 September 2017

Ipank-Kandak Rang Tuo (Lirik Lagu Minang Beserta Arti dan Maknanya)

Ilustrasi C: Cerita Medan
Judul : Kandak Rang Tuo
Voc : Ipank
Cipt : Ipank
Tahun :2016
Produksi : ELTA Production
Bahasa : Minangkabau

Dalamnyo jurang...
Rusuah hati ko tagamang...
Dek ulah adiak...urang tapandang...

Jauah mato mamandang...
Ka langik tinggi manarawang...
Kalimpanan mato...Maharok sayang...

Lapuak kayu...nan adiak sandari...
Kudian hari sasalan tibo...

Reff

Turuikkan sajo kandak rang tuo...
Rilakan denai rang biaso...
Adiak juo nan ka taseso...
Bialah biduak karam di tapi..daripado karam di tangah..
Adiak juo nan ka taniayo..

Bansaik diri adiak kan tau...
Jalan hiduik nan salamo ko....
duuuduuduuu

Intro....

Jauah mato mamandang...
Ka langik tinggi manarawang...
Kalimpanan mato...Maharok sayang...

Lapuak kayu...nan adiak sandari...
Kudian hari sasalan tibo...

Reff

Turuikkan sajo kandak rang tuo...
Rilakan denai rang biaso...
Adiak juo nan ka taseso...
Bialah biduak karam di tapi..daripado karam di tangah..
Adiak juo nan ka taniayo..

Bansaik diri adiak kan tau...
Jalan hiduik nan salamo ko....
duuuduuduuu

Arti atau maknanya.
Dalamnya jurang...
Galau hati ini menjadi bimbang..
Karena adik, orang keturunan terpandang...

Jauh mata ini memandang..
Ke langit tinggi menerawang...
Kelilipan mata...mengharapkan sebuah tanda kerinduan...

Lapuknya kayu...yang menjadi sandaran (aku) adik...
Kemudian hari baru menyesal besender di kayu yang lapuk (aku)

Reff
Turutkan saja kehendak orang tua...
Relakan saya orang biasa...
Adek juga yang akan tersiksa
Biarlah perahu tenggelam di tepi daripada tenggelam di tengah waktu berlayar...
Adik juga yang akan merasakan susahnya...

Melarat diri ini adik kan sudah tau...
Jalan hidup yang selama ini ada padaku...