Saturday, 18 November 2017

Sungaiku Tak Manis Lagi



Hanya bila pohon terakhir telah tumbang ditebang.
Hanya bila tetes air sungai terakhir telah tercemar.
Hanya bila ikan terakhir telah ditangkap.
Barulah kita sadar bahwa uang di tangan tidak dapat dimakan.
Prangko Edisi 2006 tentang lingkungan hidup

Kalimat diatas saya petik dari kata mutiara Suku Indian di Amerika Utara, kalaulah kita cermati lebih mendalam lagi betapa dalam dan besarnya arti makna dari kalimat tersebut, benarlah kiranya kekayaan yang di hasilkan oleh alam tak bisa diukur dengan uang kalaulah segalanya telah habis apa gunanya uang setinggi gunung bagi kita? Walaupun tak bisa kita pungkiri pertambahan penduduk manusia begitu pesat dan secara otomatis kebutuhan juga meningkat pula, namun pada dasarnya manusia bisa berdampingan dengan alam kalaulah ego manusia bisa dikurangi sedikit saja demi generasi yang akan datang.


Untuk menjawab tantangan itu maka empat puluh tiga tahun yang lalu, tepatnya 5 Juni 1972 di Stockholm, Swedia. PBB mendorong kerjasama Internasional dengan mengadakan konverensi yang membahas tentang lingkungan hidup dunia. Indonesia juga ikut andil dalam konverensi tersebut dengan hadirnya Bapak Prof. Emil Salim.


Dengan diadakannya konverensi di Stockholm, Swedia. tanggal 5 juni 1972 maka setiap tanggal 5 juni kita memperingati hari lingkungan hidup se-dunia, lalu apa itu hari lingkungan hidup? Saya sendiri juga tak begitu familier akan hal ini dan juga tak paham pula maksudnya, sampai saya membaca sebuah brosur lomba blogger yang di adakan Bapedal Aceh dengan tema ISU-ISU LINGKUNGAN HIDUP DI ACEH, maka timbul lah rasa ingin tau saya dan jiwa blogger saya tergerak untuk ikut dalam perlombaan ini, mulai lah saya mencari-cari segala info dan sumber di mesin pencarian Google mengenai hari lingkungan hidup, dapatlah saya gambaran bagaimana sejarahnya dan perkembangannya. 


Pencetus awal dari hari lingkungan hidup se-dunia adalah Gaylord Nelson, seorang senator Amerika Serikat. Sebenarnya hari lingkungan hidup ada setelah 2 (dua) tahun sejak dicetuskannya hari bumi 22 April 1970, di mana Gaylord Nelson melihat betapa parahnya dunia saat itu yang sudah tercemar oleh tumpahan minyak, pabrik-pabrik dan pembangkit listrik penyebab polusi, buruknya saluran pembuangan, pembuangan bahan-bahan berbahaya, pestisida, jalan raya, hilangnya hutan belantara, serta semakin punahnya kehidupan liar mendorongnya untuk berbuat sesuatu untuk memperbaiki kesalahan dan menebus dosa manusia dimasa lalu, maka dengan ide Gaylord Nelson, para  politikus di perlemen Amerika serikat yang terdiri dari partai Demokrat dan Republik sepakat pada tahun 1970 mendirikan Environmental Protection Agency/US EPA (sebuah badan perlindungan lingkungan Amerika).


Dengan membaca artikel-artikel tentang lingkungan hidup maka tergugah lah hati saya untuk membuat sebuah artikel pula mengenai kondisi lingkungan hidup di kabupaten Aceh Tenggara, kabupaten asal saya. Semoga dengan artikel saya kali ini bisa menggugah banyak para pembaca khususnya warga kabupaten Aceh Tenggara dan warga Aceh umumnya untuk bisa lebih perduli lagi akan isu-isu lingkungan hidup dan bisa berdampingan secara harmonis dengan alam yang begitu kaya yang dikaruniai oleh Allah kepada kita umat manusia.






Salah satu sudut Sungai Alas di Ketambe
Foto Pribadi





Sungaiku Tak Manis Lagi
Saya lahir dan besar di tanah ini. negeri seribu mata air tawar, saya sering sebut jika memperkenalkan diri kapada teman yang baru saya kenal, bukan tanpa alasan, itu merupakan suatu kebanggaan bagi saya. Disini, air tawar sangat mudah didapati hampir diseluruh sudut di tanah ini terdapat sumber mata air yang keluar dari celah-celah batu kapur Bukit barisan yang akan menjadi sungai-sungai kecil sumber air minum seluruh penduduknya, karena berasal dari celah-celah batu kapur maka air yang memancar dari batu kapur tersebut tak payah lagi untuk dimasak terlebih dahulu karena sudah tersaring secara alami oleh alam, sungguh itu karunia Allah yang sangat luar biasa dan patut kita syukuri karena tubuh kita 70% nya berisikan air bukan?

Tak hanya Sungai-sungai kecilnya saja, di sini juga terdapat dua Sungai besar, Sungai Alas dan Sungai Bulan yang mata airnya terpancar dari puncak Gunung Leuser.

Sungai Alas merupakan Sungai terpanjang di Provinsi Aceh yang bermuara di Samudra Hindia dan sudah sangat tersohor namanya bagi para pecinta arung jeram dengan grade 3-4. Sedangkan Sungai Bulan atau biasa juga disebut dengan kali bulan atau Lawe bulan berada tak begitu jauh dari Sungai Alas, Kali bulan ini relatif lebih kecil dan arusnya  tak seganas Sungai Alas, di pinggiran kali bulan inilah saya tumbuh dan besar.

Masih segar ingatan saya sewaktu masih duduk di bangku sekolah dasar bagaimana bahagianya mandi dan mencari ikan-ikan kecil seperti ikan Mujair, Ikan dundung dan kalau beruntung bisa dapat ikan Mas yang lepas dari tambak ikan yang jumlahnya cukup banyak dan berada tak begitu jauh dari rumah saya.

Kalaulah musim hujan telah tiba, akan menjadi hari raya ke-3 bagi kami kala itu setelah Idul adha dan Idul Fitri, karena volume air sungai Bulan akan meningkat sangat segnifikan tetapi masih dalam kategori aman bagi anak-anak seumuran kami, seluruh anak-anak yang berada didekat kali Bulan akan turun ke kali membawa pelampungnya masing-masing ada anak orang kaya akan membawa pelampung khusus yang dibeli dari kota Medan, bagi anak yang ekonomi menengah akan membawa ban dalam yang sudah diisi angin nah bagi anak yang dibawah ekonomi menengah seperti saya akan berputar otak karena seperti apapun merengeknya saya meminta kala itu pasti takkan dibelikan maka dengan lugunya saya membawa 2 buah gabus bekas alat-alat elektronik yang saya lekatkan di kedua lengan saya agar bisa mengapung diatas permukaan kali ehehehe.

Namun, semua keseruan itu kini hanyalah menjadi sebuah kenangan manis yang sulit untuk terulang kembali. setelah saya tamat Sd, saya sudah dilarang oleh ibu untuk tidak lagi mandi dan bermain di pinggir kali bulan., sangat heran tak mengerti kenapa saya bisa dilarang, padahal selama ini tak pernah terjadi suatu hal buruk menimpa saya atau teman-teman lainnya selama mand dan bermain disana.

Semakin dewasa dan semakin bertambah pengalaman pula maka mulai lah sadar dan mengerti mengapa ibu melarang mandi dan bermain di kali bulan, karena air kali tak lagi ramah seperti dulu bagi anak-anak. Dulu kata orang-orang tua sebelum derasnya pendatang dan meningkatnya jumlah penduduk  Kabupaten Aceh Tenggara, kali bulan memiliki fungsi banyak hal bagi penduduknya selain tempat MCK, Kali bulan bahkan dikonsumsi sebagai air minum.

Namun, kini sirna sudah seiring bertambahnya penduduk dan derasnya pendatang ke Kabupaten Aceh Tenggara, air kali bulan sudah menjadi sangat tercemar dikarenakan perbuatan manusianya, seperti membuang sampah ke kali, pembuangan alat-alat kedokteran seperti infus, suntik bekas, obat-obat darluasa, bahkan alat kontrasepsi juga dibuang ke kali.  Mencuci baju dan piring. penebangan liar dihutan dan diperparah lagi masyarakatnya belum memiliki budaya dan kesadaran membuat MCK pribadi, sehingga segalanya dibuang begitu saja ke kali. Jangankan untuk diminum sekarang ini, airnya jika  tersentuh oleh orang yang tak terbiasa menyentuhnya akan menimbulkan gatal-gatal pada kulit, ikan-ikan seperti mujair dan ikan mas tak mampu hidup lagi dan digantikan dengan ikan sapu-sapu yang lebih tahan dengan air yang tercemar, dan para penambak ikan air tawar kini sudah gulung tikar karena banyak merugi, dan yang membuat saya betambah kecewa tak lagi bisa saya dapati anak-anak tertawa bahagia seperti saya kala itu dalam menikmati kali bulan yang separuh hidup saya berada didekatnya.




Masyarakat sedang melakukan aktifitas MCK
di kali Bulan Foto : Sapti Adri Selian



Banjir Bandang dan Kekeringan Menjadi Bom Waktu 
Tahun 2010 silam terjadi banjir bandang besar yang menerpa kabupaten Aceh Tenggara, menimbulkan puluhan rumah hanyut, rusak parah dan hilangnya belasan nyawa.

Banjir bandang sebenarnya tak hanya sekali itu saja terjadi, peristiwa ini berulang-ulang kali terjadi meski tak separah 2010 silam.

Menurut mentri kehutanan masa itu, bapak M.S Kaban, penyebab banjir bandang di Kutacane, kabupaten Aceh Tenggara tahun 2010 adalah akumulasi dari penebangan-penebangan di kawasan hutan dimana masyarakatnya selain melakukan ilegal loging, pembukaan lahan perkebunan baru, dan juga melakukan penebangan secara serampangan terhadap pohon kemiri yang akarnya sangat kuat dalam menahan derasnya air hujan dan juga mampu menjaga ekosistem hutan, warga setempat menggantikannya dengan pohon-pohon komoditi baru andalan kabupaten Aceh Tenggara seperti pohon kakao atau Coklat.

Selain Banjir bandang yang sewaktu-waktu bisa saja terjadi,kekeringan juga tak kalah menakutkannya bagi penduduk yang berada di dekat atau pinggiran kali bulan, termasuk pula keluarga saya. Apabila  musim kemarau tiba biasanya volume air kali bulan sebatas dengkul orang dewasa, kini jangankan bisa dapat sedengkul, setumit pun sudah sangat Alhamdulillah dan lebarnya kini saat kemarau bisa seperti lebar parit atau selokan rumah warga. Lalu bagaimana jika musim penghujan tiba? pasti kalian sudah dapat menduga apa yang terjadi selanjutnya, iya banjir besar pun datang dengan derasnya membawa lumpur dan kayu-kayu dari hutan. Usut punya usut kayu yang saya lihat itu bukanlah kayu murahan, banyak kayu-kayu yang hanyut adalah sejenis kayu mahoni dan kayu-kayu berumuran sangat tua yang merupakan sisa-sisa dari ilegal loging dari hutan yang setiap harinya ada 30 sampai 40 truk keluar masuk kabupaten Aceh Tenggara membawa kayu glondongan.

 



Banjir bandang tahun 2010 di kecamatan semadam
Foto : Liputan6
 
 

Solusi Saya Sebagai Putra Daerah
Melihat fakta-fakta dan permasalahan yang telah terjadi di atas perlulah kiranya suatu solusi dan kebijakan baru dalam menghadapi permasalahan yang kita hadapi dewasa ini, bagaimanapun kebutuhan manusia terhadap alam tak bisa kita hilangkan tetapi kita bisa mencari solusi untuk menghadapinya.


Solusi saya sebagai putra daerah adalah dengan pembangunan MCK, tempat sampah di setiap kampung pinggiran sungai, dan melakukan sosialisasi agar budaya buang sampah, mencuci, mandi dan buang air besar di sungai mulai ditinggalkan, karena sebenarnya pemkab Aceh Tenggara bukannya tidak bertindak, sudah banyak  MCK dan tempat sampah didirikan namun pengelolaannya yang masih kurang baik, dan kebanyakan asumsi dari warga lebih nyaman melakukan kegiatan Mandi,cuci,kakusnya di sungai, sudah menjadi tradisi katanya.

Bagi penebangan liar dan pembukaan lahan baru di hutan, solusi saya bisa dilakukan pelatihan-pelatihan terhadap warga yang bekerja di hutan dengan melatih mereka kerajinan tangan seperti pembuatan kain kerawang gayo, tikar adat, baju adat Alas-Gayo dan lain-lain, serta penggalakan sektor pariwisata juga bisa menjadi solusi ampuh jika serius dikelola karena di kabupaten ini punya banyak objek wisata yang unik seperti Taman Nasional Gunung Leuser, Arung jeram Sungai Alas, Bukit Gurah, sumber air panas, serta kebudayaan yang Heterogen. Jika itu semua sudah dimaksimalkan maka kelestarian hutan di Kabupaten Aceh Tenggara insya Allah akan tetap terjaga nantinya, karena masyarakatnya sudah memiliki pengetahuan akan alam dan pekerjaan yang ramah lingkungan pula, dan ancaman kekeringan serta banjir bandang tak menjadi hal yang dirisaukan oleh warga sepakat segenep ini.








Sumber :
  • http://bapedal.acehprov.go.id/lomba-menulis-artikel-lingkungan-bagi-blogger-dalam-rangka-hlhs-2016/
  • http://news.liputan6.com/read/111159/kaban-banjir-kutacane-akibat-penebangan-kayu-liar
  • http://www.hpli.org/gaylord.php

Wednesday, 8 November 2017

Perbuatan/Perangai Yang di Larang dilakukan Oleh Wanita Minang

 
C: Infosumbar

MINANGKABAU adalah etnis yang unik, sebagai etnis/suku yang memegang paham matrilineal, Minangkabau meletakkan perempuan dalam posisi yang sangat istimewa. Di alam Minangkabau, perempuan amat sangat dihormati. Perempuan memiliki tempat dan hak suara di dalam kaum. Pendapatnya didengar, pertimbangannya diperlukan. Perempuan benar-benar mempunyai nilai. Jika kita larikan ke falsafah adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah penghormatan Minangkabau terhadap perempuan selaras dengan penghormatan syarak/agama Islam terhadap mereka, sebagaimana termaktubnya surat khusus bernama An-Nisa (perempuan) dalam kitabullah (Al-Qur’an).

Keistimewaan yang diberikan kepada perempuan Minangkabau itu tentu harus diikuti dengan serangkaian usaha untuk menjaganya. Sebab, sesuatu yang istimewa adalah sesuatu yang terjaga dan dipelihara sebaik mungkin. Oleh karena itu, para pendahulu menetapkan aturan atau pendidikan terhadap anak-anak perempuan agar tetap menjaga keistimewaan mereka. Nuansa pendidikan itu disebut dengan sumbang, yang dapat diartikan sebagai sesuatu yang tidak pada tempatnya. Sumbang ini terdiri dari 12 poin yang bisa kita bahasakan sebagai 12 budaya terlarang bagi perempuan Minangkabau. Budaya dalam konteks ini berarti kebiasaan yang tidak boleh dilakukan oleh perempuan Minang demi menjaga warisan budaya dari para pendahulunya.

Sumbang Duduak
Duduk yang sopan bagi perempuan Minang adalah bersimpuh, bukan bersila macam laki-laki, apalagi mencangkung atau menegakkan lutut. Ketika duduk di atas kursi duduklah dengan menyamping, rapatkan paha. Jika berboncengan jangan mengangkang. 

Sumbang Tagak
Perempuan dilarang berdiri di depan pintu atau di tangga. Jangan berdiri di pinggir jalan jika tidak ada yang dinanti. Sumbang berdiri dengan laki-laki yang bukan muhrim
.
Sumbang Jalan
Ketika berjalan, perempuan Minang harus berkawan, paling kurang dengan anak kecil. Jangan berjalan tergesa-gesa apalagi mendongkak-dongkak. Jika berjalan dengan laki-laki berjalanlah di belakang. Jangan menghalagi jalan ketika bersama dengan teman sebaya.

Sumbang Kato
Berkatalah dengan lemah lembut, berkatalah sedikit-sedikit agar paham maksudnya, jangan serupa murai batu atau serupa air terjun. Jangan menyela atau memotong perkataan orang, dengarkanlah dulu hingga selesai. Berkata-katalah yang baik.
 
Sumbang Caliak
Kurang tertib seorang perempuan Minang ketika suka menantang pandangan lawan jenis, alihkanlah pandangan pada yang lain atau menunduk dan melihat ke bawah. Dilarang sering melihat jam ketika ada tamu. Jangan suka mematut diri sendiri.

Sumbang Makan
Jangan makan sambil berdiri, nyampang makan dengan tangan genggamlah nasi dengan ujung jari, bawa ke mulut pelan-pelan dan jangan membuka mulut lebar-lebar. Ketika makan dengan sendok jangan sampai sendok beradu dengan gigi. Ingat-ingat dalam bertambah (batambuah).

Sumbang Pakai
Jangan mengenakan baju yang sempit dan jarang. Tidak boleh yang menampakkan rahasia tubuh apalagi yang tersimbah atas dan bawah. Gunakanlah baju yang longgar, serasikan dengan warna kulit dan kondisi yang tepat, agar rancak dipandang mata.

Sumbang Karajo
Kerjaan perempuan Minang adalah yang ringan serta tidak rumit. Pekerjaan berat serahkanlah pada kaum laki-laki. Jika kerja di kantor yang rancak adalah menjadi guru.

Sumbang Tanyo
Jangan bertanya macam menguji. Bertanyalah dengan lemah lembut. Simak lebih dahulu baik-baik dan bertanyalah jelas-jelas.

Sumbang Jawek
Ketika menjawab, jawablah dengan baik, jangan jawab asal pertanyaan, jawablah sekadar yang perlu dijawab tinggalkan yang tidak perlu.

Sumbang Bagaua
Jangan bergaul dengan laki-laki jika hanya diri sendiri yang perempuan. Jangan bergaul dengan anak kecil apalagi ikut permainan mereka. Peliharalah lidah dalam bergaul. Ikhlaslah dalam menolong agar senang teman dengan kita.

Sumbang Kurenah
Tidak baik berbisik-bisik saat tengah bersama. Jangan menutup hidung di keramaian. Jangan tertawa di atas penderitaan orang lain, apalagi hingga terbahak-bahak. Jika bercanda, secukupnya saja dan diagak-agak, agar tidak tersinggung orang yang mendengar. Jagalah kepercayaan orang lain, jangan seperti musang yang berbulu ayam.
 
Keistimewaan tentu harus dijaga dengan usaha yang ekstra. Bagai berlian yang dikurung di etalase kaca anti pecah dan bergembok, tak sembarang orang bisa menyentuhnya. Perempuan Minangkabau sangat berharga, bahkan jauh lebih berharga dari berlian yang dicontohkan itu. Berharganya dan istimewanya mereka selaras dengan harga diri yang perlu mereka pertahankan dengan teguh. Sebab, ketika perempuan Minang bisa menjaga semua itu, ketika perempuan Minang mampu menjaga diri dari 12 sumbang yang telah dijelaskan di atas, dari situlah kecantikan sejati akan memancar dan kecantikan itu sampai kapanpun takkan pernah pudar. 
 
Sumber: portal unik

Monday, 6 November 2017

Suku Kampar (Ocu), Minang atau Melayu??


Lontiok Rumah Adat Suku Kampar C: Anak-anak Minang

Sejarah Suku Ocu (Kampar)
Suku Ocu merupakan salah satu suku yang berasal dari provinsi Riau. Secara spesifik suku Ocu berasal dari kabupaten Kampar oleh karena itu mereka dikenal juga sebagai Suku Kampar, biasanya mereka menyebut komunitas masyarakatnya dengan sebutan "Oughang Kampar"

Suku Ocu dikelompokan kedalam ras Melayu Tua atau Proto Melayu. Dalam tradisi suku Ocu, mereka dikelompokan lagi kedalam suku-suku kecil atau subsuku, yaitu suku Piliang, Domo, Putopang, Kampai dan suku Mandiliong.

Sehari-hari masyarakat Ocu bertutur menggunakan bahasa Ocu, salah satu bahasa yang dikelompokan kedalam rumpun Bahasa Melayu. Hanya saja bahasa Ocu diperkirakan lebih tua dibandingkan bahasa Melayu Daratan. Jadi, selain merujuk pada nama suku, istilah Ocu juga merujuk pada Bahasa.

Perkataan  Ocu juga dipakai sebagai sebutan wilayah dan sebutan bagi saudara atau anak ke empat hingga seterusnya. Dalam adat Kampar, anak pertama oleh saudara-saudaranya dipanggil dengan sebutan Uwo (berasal dari kata tuo, tua, yang paling tua). Anak kedua dipanggil oleh adik-adiknya dengan sebutan Ongah, yang berasal dari kata tengah. Anak ketiga dipanggil oleh adik-adiknya dengan sebutan Udo, atau anak paling mudo (paling muda). Sementara untuk anak ke empat, baik laki atau perempuan dipanggil dengan sebutan Ocu. Kemungkin berasal dari kata Ongsu, yang dalam bahasa Indonesia berarti bungsu atau anak terakhir. Anak kelima dan seterusnya juga akan dipanggil Ocu. Penyebutan semacam ini juga berlaku dibeberapa wilayah lainnya di Riau Daratan.

Asal-usul suku Ocu saat ini masih menjadi kontroversi. Ada yang bilang suku Ocu berasal dari Sumatera Barat dan masih bagian dari suku Minangkabau. Pendapat tersebut punya alasan sendiri karena budaya, adat istiadat, bahasa, struktur pemerintahan dan gaya bangunan memiliki kemiripan dengan budaya Sumatera Barat. Selain itu dalam Tambo Minangkabau wilayah Kampar merupakan bagian dari wilayah Minangkabau. Beberapa sumber juga menyebutkan kalau suku Ocu menganut sistem kekerabatan matrilineal seperti suku Minangkabau. Namun tidak ada satupun anak-anak keturunan Ocu yang mau disebut sebagai suku Minangkabau.


Selain pendapat diatas, ada pendapat lainnya yang menyebutkan kalau suku Ocu berasal dari keturunan Riau Daratan. Pendapat ini juga didasarkan atas kesamaan karakteristik masyarakat ocu di kabupaten Kampar, dengan adat dan kebudayaan beberapa kabupaten di provinsi Riau yang didominasi oleh masyarakat Melayu.

Pendapat lainnya adalah suku Ocu berdiri sendiri yang terpisah dari suku Minangkabau ataupun Melayu. Pendapat ini mengemuka karena adanya anggapan kalau dahulunya orang Ocu memiliki kerajaan sendiri. Melihat banyaknya versi tentang asal-usul suku Ocu ini, membuka mata kita bahwa harus dilakukan penelitian yang lebih dalam lagi. Dengan demikian tidak muncul kontroversi yang membuat polemik antara suku Ocu dengan suku-suku lain disekitarnya.

Rumah Adat Ocu (Kampar)
Rumah Pelancangan atau rumah Lontiok adalah rumah adat yang terdapat di daerah suku kampar. Bentuk rumah Lontiok dikatakan berasal dari bentuk perahu, hal ini tercermin dari sebutan pada bagian-bagian rumah tersebut seperti: bawah, tengah, ujung, pangkal, serta turun, naik. Dinding depan dan belakang dibuat miring keluar dan kaki dinding serta tutup didinding dibuat melengkung sehingga bentuknya menyerupai sebuah perahu yang diletakkan diatas tiang-tiang. 
 
Rumah Lontiok berfungsi sebagai rumah adat dan rumah tempat tinggal. Dibangun dalam satu prosesi panjang yang melibatkan masyarakat luas serta upacara.
 
Rumah Lontiok atau Lontik, merupakan rumah panggung. Tipe konstruksi panggung dipilih untuk menghindari bahaya binatang buas dan banjir. Kolong rumah, biasanya digunakan untuk kandang ternak, wadah penyimpanan perahu, tempat bertukang atau tempat bermain anak-anak, dan gudang kayu untuk persiapan bulan puasa. Kemudian lain penyebab pemakaian konstruksi panggung adalah adanya ketentuan adat untuk memakai tangga, dengan jumlah anak tangga ganjil dan menyediakan tempayan air didekatnya untuk mencuci kaki di pangkal tangga. Ketentuan adat juga menyatakan bahwa penghuni perempuan cukup berpakaian sedada tanpa baju (kemban) di dalam rumah atau tidur-tidur dirumah tanpa adanya penyekat/pelindung ruang. Kalau rumah dibangun rendah atau “melekat” di atas tanah, maka keadaan di dalam rumah akan kelihatan dari luar rumah.
 
Dinding luar Rumah Lontik seluruhnya miring keluar, berbeda dengan dinding dalam yang tegak lurus. Balok tumpuan dinding luar depan melengkung keatas, dan kalau disambung dengan ukiran sudut-sudut dinding, kelihatan seperti bentuk perahu. Balok tutup atas dinding juga melengkung meskipun tidak semelengjung balok tumpuan. Lengkungannya mengikuti lengkung sisi bawah bidang atap. Kedua ujung perabung diberi hiasan yang disebut Sulo Bayung. Sedangkan Sayok Lalangan merupakan ornamen pada ke 4 sudut cucuran atap. Bentuk hiasan beragam, ada yang menyerupai bulan sabit, tanduk kerbau, taji dan sebagainya.

Ritual Pernikahan Suku Kampar
Dalam adat pernikahan suku kampar ada beberapa ritual yang harus dijalani oleh masyarakat adat kampar dalam resepsi pernikahannya, berikut ini urainnya:

1. Ibu-ibu membantu memasak di rumah mempelai wanita

Di Kabupaten Kampar dari zaman ninik mamak terdahulu, apa bila ada saudara sekampung yang hendak menikah, maka keluarga dari mempelai yang hendak menikah harus memanggil para tetangga kampung untuk membantu kegiatan memasak yang dilakukan 3 hari ataupun sehari sebelum acara resepsi pernikahan berlangsung (hitungan ini tergantung dari keluarga mempelai), karena masyarakat kampar sejak dulu dikenal dengan cara bergotong royong dalam melakukan sesuatu termasuk dalam mempersiapkan makanan untuk resepsi pernikahan.

2. Acara Shalawatan (Badiqiu) 
Badiqiu merupakan suatu acara yang ada dalam kebudayaan masyarakat kampar. Acara ini dilakukan oleh para tokoh-tokoh dan sesepuh adat pada malam hari sebelum acara resepsi pernikahan dilakukan, agar acara pernikahan ini berlangsung dengan hikmat dan keluarga yang baru menjadi keluarga yang utuh hingga akhir hayat.


3. Acara Pengantaran Pihak Lelaki ke rumah Pihak Perempuan (Ba'aghak)

Dengan dentuman Rebana dari para tokoh adat ini, menambah kehikmatan nilai budaya yang sakral pada acara pengantaran Pihak Lelaki ke rumah Pihak Perempuan, biasanya shalawatan selalu di kumandang kan hingga akhirnya Pihak Lelaki sampai kerumah Pihak Perempuan. Setelah pihak laki-laki tiba, kedua mempelai langsung di persandingkan.


4. Acara Pengantaran Pihak Lelaki dengan membawa Hantaran (Jambau)
Seperti adat di daerah lainnya, hantaran juga berlaku di kabupaten kampar, tetapi tidak terlalu mengikat, jika mempelai lelaki tidak mampu untuk memberikanhantaran, maka ini tidak di wajibkan untuk membawa hantaran tersebut.

 
 
Sumber : 
  1. http://nativeindonesians.blogspot.co.id 
  2. http://echopedian.blogspot.co.id/