Sunday, 19 March 2017

[[Opini]] “Cikeas Bersenandung Lagu Baru Dengan Irama Lama Untuk Jakarta?”

Piala Lomba pidato B. Inggris
Credit : Putri Maulidar Magfirah

Note : Opini ini telah dipertandingkan pada lomba pidato bahasa Inggris yang berhasil meraih peringkat pertama di IAIN Antasari Bajarmasin oleh Putri Maulidar Magfirah pada tanggal 17 Maret 2017 Silam.

Judul : Cikeas Bersenandung Lagu Baru Dengan Irama Lama Untuk Jakarta?
Penulis : Riduwan Philly
Tanggal : 01 Maret 2017
Alih Bahasa Versi Inggris : Putri Maulidar Magfirah


AEFARLAVA-Runtuhnya pemerintahan orde baru pimpinan pak Harto sembilan belas tahun silam membawa babak baru bagi kehidupan rakyat Indonesia dalam bernegara dan bersosial, Orde baru yang berkuasa selama 32 tahun mencengkram segala aspirasi dan kreatifitas anak bangsa, kini diganti dengan era reformasi, dimana kebebasan telah dimiliki kembali oleh tiap-tiap individu untuk berekspresi dan berkarya demi kemajuan bangsa dan negara tanpa takut lagi dilanggar haknya oleh penguasa atau orang yang memiliki kekuatan. Namun, sayangnya kebebasan tersebut mulai disalah artikan menjadi sebebas-bebasnya oleh bangsa kita. 
Masa reformasi bertepatan juga dengan dimulainya era digital dimana diera ini akses akan berita  atau informasi baik yang akurat maupun hoax sangat mudah didapati cukup dengan gadget maupun smartphone digenggaman anda, rakyat yang dulunya takut berargumen tentang pendapatnya terhadap isu-isu sosial yang terjadi di masyarakat, kini dengan bebasnya berpendapat apa yang ada dipikirannya dituangkan semuanya di media sosial seperti Facebook, twitter, Instagram maupun media sosial lainnya, mereka berpendapat tanpa lagi memikirkan etika maupun kesopanan, tak jarang ada segelintir masyarakat dengan tujuan tertentu melakukan penghinaan dan sindiran terhadap orang atau pemerintahan yang tidak mereka sukai dan tak jarang pula untuk mencapai tujuannya mereka menebar fitnah dan isu yang tak dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya. 

Allah berfirman :
إِنَّ الَّذِينَ جَآءُوا بِاْلإِفْكِ عُصْبَةٌ مِّنكُمْ لاَتَحْسَبُوهُ شَرًّا لَّكُم بَلْ هُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ لِكُلِّ امْرِئٍ مِّنْهُم مَّااكْتَسَبَ مِنَ اْلإِثْمِ وَالَّذِي تَوَلَّى كِبْرَهُ مِنْهُمْ لَهُ عَذَابٌ عَظِيمٌ
Artinya:
“Sesungguhnya orang-orang yang membawa ifki (Bohong) adalah dari golongan kamu juga.Janganlah kamu kira berita bohong itu buruk bagi kamu, bahkan ia adalah baik bagi kamu.Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya, dan barangsiapa diantara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu, baginya adzab yang besar”. [An Nur : 11][1]

            Dijelaskan pada Firman Allah SWT diatas bagaimana hukuman bagi orang-orang yang menebarkan berita Ifki (Bohong) yang akan dibalas oleh Allah terhadap apa-apa saja perbuatan yang mereka perbuat dan hanya adzab yang besar yang menanti mereka yang menebar berita Hoax dan Fitnah atas sesamanya kaum Mu’min. Wallahu a'lam

Demokrasi sebagai bentuk pemerintahaan yang dipilih oleh bangsa ini setelah reformasi tahun 1998 seakan-akan kebablasan, diibaratkan ketapel yang pada jaman orde baru talinya terlalu ditarik kebelakang dan setelah orde baru berakhir tali tersebut terlepas sangat kencangnya kedepan, jadinya, dapat kita lihat sekarang ini kebebasan diartikan sebagai kata sebebas-bebasnya tanpa lagi memikirkan etika, sopan-santun, hukum yang berlaku, dan bahkan ajaran agama. Fitnah dimana-mana betebaran, saling menuduh dan berprasangka buruk (Seuzon) satu sama lain sudah menjadi lumrah akhir-akhir ini di per-televisian nasional kita, isu SARA (Suku, Agama, Ras dan Antar Golongan) berhembus sangat kencangnya, politik menjelang pemilu memecah belah keluarga, saudara dan masyarakat. Lalu, menjadi pertanyaan, apakah itu lumrah atau biasa? bagi saya hal itu merupakan suatu kewajaran dalam dunia Demokrasi, apa lagi kita baru sembilan belas tahun menikmati indahnya reformasi dan mengadopsi Sistem Demokrasi yang didalamnya terbuat teori trias political (Pemisahan Kekuasaan). Perlu diketahui bahwa Amerika Serikat yang sudah sangat lama menganut Sistem demokrasi baru bisa menerima pemimpin kulit hitam mereka 211 tahun setelah mereka merdeka, hal ini terjadi tatkala presiden Barack Obama dilantik menjadi presiden ke-44 Amerika Serikat pada tahun 2008 silam, mundur kebelakang lagi mereka (USA) yang katanya sangat menjunjung tinggi HAM dan demokrasi memerlukan waktu selama kurang lebih 64 tahun (1896-1960) untuk menghilangkan kebijakan segregasi[2] lalu butuh waktu berapa lama yang diperlukan oleh bangsa kita untuk penyesuaian terhadap sistem demokrasi  yang baru terbentuk seumuran jagung ini secara total? Wallahu a'lam

Menjelang pemilukada 2017 yang diadakan pada tanggal 15 Februari silam yang diadakan serentak di 101 daerah baik Provinsi maupun kabupaten/Kota membuat suhu perpolitikan baik di Nasional maupun daerah memanas, terutama yang paling terasa suhu politiknya di Pemilukada DKI Jakarta yang banyak pengamat politik mengatakan bahwa pemilukada Jakarta terasa seperti Pilpres dikarenakan Jakarta merupakan lambang Indonesia mini ditambah dengan begitu antusiasnya masyarakat mengikuti tahapan demi tahapan proses Pemilu yang diselenggarakan oleh KPU (Komisi Pemilihan Umum), terlebih dahulu kita kesampingkan dahulu isu “penistaan Agama” yang menjerat calon Gubernur Basuki Tjahaja Kusuma atau yang akrab kita sapa dengan pak Ahok, walaupun itu menarik untuk kita kupas lebih dalam lagi dari perspektif yang berbeda, Dari bursa calon gubernur DKI Jakarta terdapat 3 orang pria terbaik bangsa ini yang maju untuk memimpin jakarta 5 tahun kedepan, selain pak Ahok terdapat nama Bang Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dan Pak Anies Baswedan, dengan hasil akhir quick count yang diambil dari litbang kompas membawa pasangan Ahok-Djarot unggul dengan 42,87% Suara, disusul pasangan Anies-Sandiaga 39,76% dan terakhir pasangan Agus-Sylviana 17,37 %[3], ada satu hal menarik yang dapat kita lihat tatkala satu hari sebelum tanggal 15 februari atau satu hari sebelum proses pemungutan suara di mulai, mantan presiden ke-6 Indonesia sekaligus ayah dari Bang Agus Harimurti Yudhoyono atau biasa dipanggil AHY melakukan konfrensi pers dikediamannya di Cikeas menanggapi isu yang digulirkan oleh Pak Antasari Azhar mantan dari pimpinan KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi), ia menuding bahwa orang dibalik kriminalisasi atas dirinya pada kasus pembunuhan (Alm) Nasarudin Zulkarnain diketahui oleh Pak SBY, menanggapi isu itu didalam konfrensi persnya pak SBY balik melakukan tudingan kepada Antasari Azhar dengan mengatakan menduga (Seuzon) ada maksud menjatuhkan elaktibilitas dia dan anaknya yang esok hari akan bertarung di pemilukada DKI Jakarta dibalik perkataan Antasari terkait dengan tudingan itu, pak SBY juga menggulirkan api panas pada pemerintahan saat ini pimpinan pak Jokowi dalang isu ini semua, semua itu dilandasi oleh dugaan tanpa mau memberikan pembuktian secara terang-terangan hal ini akan menimpulkan rasa saling curiga satu sama lain diantara kita apalagi yang sedang bertikai adalah para pemimpin bangsa ini.

Allah Berfirman
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا
“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan berprasangka, karena sesungguhnya sebagian tindakan berprasangka adalah dosa dan janganlah kamu mencari-car kesalahan orang lain” [Al-Hujurat : 12][4]

Lebih jauh lagi senada dengan firman Allah SWT,  Rasulullah SAW Bersabda:
إِيَّا كُمْ وَالظَّنَّ فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيْثِ وَلاَ تَحَسَّسُوا وَلاَ تَجَسَّسُوا وَلاَ تَحَاسَدُوا وَلاَتَدَابَرُوا وَلاَتَبَاغَضُوا وَكُوْنُواعِبَادَاللَّهِ إحْوَانًا
“Berhati-hatilah kalian dari tindakan berprasangka buruk, karena prasangka buruk adalah sedusta-dusta ucapan. Janganlah kalian saling mencari berita kejelekan orang lain, saling memata-matai, saling mendengki, saling membelakangi, dan saling membenci. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara” 

            Sudah jelas berdasarkan firman Allah SWT serta sabda Baginda Rasulullah SAW diatas bahwa sudah semestinya kita sebagai kaum muslimin dan muslimah untuk sebisa mungkin menghindari prasangka buruk dan menuduh tanpa bukti kepada saudara kita lainnya yang seiman, apa lagi yang melakukan adalah pemimpin kita sendiri alangkah lebih bijaknya masalah tersebut tidak diungkap kedepan publik melihat peran mereka sebagai pemimpin bangsa yang pada akhirnya akan memunculkan benih perpecahan antar anak bangsa, sudah sepantasnya mereka menampakkan kearifan dan kebesaran hati mereka untuk lebih bijak dalam menyelesaikan permasalahan secara lebih private. Sebelum isu panas antasari azhar ini muncul kepermukaan, pak SBY sudah beberapa kali melakukan dugaan dan curiga terhadap pemerintahaan Jokowi yang hendak menjatuhkan elaktibilitasnya dimata rakyat, mulai dari Safari Politik tur de Java, dilanjutkan kasus Hambalang, HAM munir, kasus demo 212 dan yang paling heboh beberapa mahasiswa melakukan demo didepan rumah pak SBY, mahasiswa menduga bahwa dalang dari carut marutnya perpolitikan bangsa kita adalah tak lain pak SBY. Lebih lanjut lagi kecurigaan pak SBY semakin menjadi dengan mengalamatkan dalang pendemoan terhadap rumahnya adalah Pemerintahan sekarang, hal itu dapat dilihat pada twettan-twettan pak SBY di Twitter, dia memposisikan dirinya sebagai orang yang dizalimi oleh pemerintahan sekarang, kalau anda sering update berita nasional dan Meme-meme lucu, pasti sudah akrab ditelinga ketika mendengar kata “Saya Bertanya?” yang memuat tentang kekesalan pak SBY terhadap pendemo didepan rumahnya dan lagi-lagi menduga ada unsur politik terhadap kejadian ini semua, banyak orang menduga semua ini adalah senandung lagu baru pak SBY dengan irama lama, sebagai mana kita ketahui pada pilpres tahun 2009 silam kasus penzoliman yang memposisikan pak SBY sebagai orang yang dizalimi telah diperankan olehnya, hal ini sedikit mampu meningkatkan elaktibiltas pak SBY kala itu, namun sayang pada saat ini upaya penzoliman atas dirinya sepertinya kurang mampu memberikan kemagisan suara untuk anaknya, hal ini terbukti dengan anjloknya suara nomor urut 1 pada hasil quick count yang dirilis oleh media-media, pengamat menduga anjloknya suara Agus-Sylviana disebabkan oleh Twittan pak SBY sendiri yang terlalu membentengi atau posesive terhadap anaknya. 

Banyaknya kasus saling menuduh dan saling curiga diantara kita membuat kita menjadi lemah tak hanya sebagai bangsa namun juga sebagai umat Islam, sudah sepantasnya permasalahan tertentu apalagi dilandasi prasangka buruk atau kecurigaan dengan mu’min lainnya tidak diumbar kedepan publik hal itu akan mengakibatkan multitafsir dari masing-masing kubu yang mendukung salah satu pihak, kita adalah bangsa besar, umat Islam terbesar di dunia, sudah semestinya kita bersatu menjadi rahmatan lil alamin, dan sebagai contoh Demokrasi dan Islam bisa saling berdampingan. Wallahu a'lam.

Darussalam 01 Maret 2017

Riduwan Philly




[1] Diakses dari https://almanhaj.or.id/2634-berita-dan-bahayanya.html Tanggal 01 Maret 2017 pada pukul 09:04 WIB
[2] Segregasi:Pemisahan kelompok-kelompok menurut suku bangsa dalam kehidupan sehari-hari
[3] Di Akses dari http://megapolitan.kompas.com/read/2017/02/15/19011671/ini.hasil.akhir.quick.count.pilkada.dki.dari.5.lembaga.survei pada pukul 11:30 WIB tanggal 01 Maret 2017
[4] Diakses dari MediaIslam Salafiyah pukul 15:57 WIB Tanggal 01 Maret 2017
 

Berkomentarlah dengan Cara yang sopan dan punya etika, No Bully, No Sara, No Spam dan yang terpenting No Porn, biar Barokah hidup kita!!
EmoticonEmoticon