Friday, 15 April 2016

Si Layakh (Cerita Rakyat dari Kutacane, Kabupaten Aceh Tenggara)

Peulebat Credit : Aefarlava



Alkisah di suatu kuta (Red-Gampong, Nagari, desa), bernama kuta Engkeran yang merupakan salah satu wilayah Tanah Alas, Kabupaten Aceh Tenggara saat ini. Hiduplah sekelompok Masyarakat yang gemar bergotong royong dan saling membantu satu sama lain. mereka hidup dengan bercocok tanam dan bersawah, di karenakan tanahnya sangatlah subur membuat hasil panen setiap tahunnya berlimbah ruah.
Kuta tersebut dipimpin oleh seorang raja kecil yang memerintah secara turun temurun dan tunduk pada kejuruan Mbatu Mbulan dan setiap tahunnya mengirimkan pajak ke Sultan Aceh Darussalam.

Di kisahkan, semenjak menikahi permaisurinya hingga sekarang beliau belum juga dikaruniai  seorang putra. Hal ini sangatlah berbahaya bagi keberlangsungan kerajaan yang dipimpinnya karena suku Alas adalah suku yang menganut sistem Patrilineal yang mana menarik garis keturunan dari pihak laki-laki, jadi hanya laki-laki sajalah yang berhak melanjutkan garis keturunan dan menjadi raja.

***

Pada Suatu malam, sang permaisuri raja berdiskusi dengan suaminya, “Kanda,,, sudah lama kita berumah tangga, ingin rasanya adinda mempunyai seorang anak laki-laki”

“benar adindaku,kanda juga menginginkan hal yang sama, jika kelak esok aku di panggil Allah, dan kita tidak punya keturunan, kanda takut tidak ada lagi penerus kerajaan Ngkeran ini”.

Semalam suntuk Raja dan permaisurinya berdiskusi panjang. Dan sampailah pada titik temu, besok pagi mereka akan mengumpulkan semua ahli Nujum (Dukun) terbaik yang ada diseluruh tanah Alas, Karo dan Blangkejeren, namun Nihil semua usaha itu sia-sia tak ada satu ahli nujum pun yang mampu memberikan jawaban akan kegelisahan sepasang suami-istri ini.

Hampir putus asa, do’a dan usaha telah mereka berdua lakukan semuanya. sampai lah pada suatu hari terdengar oleh mereka tentang kehebatan seorang Guru Mbelin seorang Dukun Hebat, yang tinggal di Singkil yang kehebatanya tak diragukan lagi didaerahnya. berita kesohoran dukun itu didapat dari para pedagang Alas yang berlayar ke Singkil menjajakan hasil hutan seperti gula aren, rotan buah-buahan dan sebaliknya mereka membawa hasil bumi dari pesisir seperti garam, ikan laut, kerang dll.

Mendengar kabar itu membuat hati raja sangat gembira, dan Niat Raja sudah sangat bulat besok hari beliau bersama permaisuri dan beberapa pengawal kerajaannya berangkat ke Singkil, melalui Sungai Alas dengan menaiki perahu yang memiliki layar, 7 hari 7 malam lamanya untuk sampai ke Singkil yang berada di pesisir.

***

Sesampainya di Singkil rombongan Raja ini tidak susah mendapatkan kediaman sang Guru, karena sudah banyak orang dari luar datang ke Singkil Cuma hendak berobat ke sang Guru. Dirumah Guru Mbelin mereka berobat dengan tekun dan sabar, sang raja mematuhi segala persyaratan yang diminta oleh dukun kepadanya. Hari terus berlalu sampai pada hari ke-62, Sang Guru Mbelin berkata “pulanglah kalian,,, yakinlah bahwa setahun yang akan datang istrimu telah memangku seorang anak laki-laki”. Dengan berbesar hati dan penuh harapan pulanglah mereka ke Tanah Alas denga berjalan kaki memasuki dataran tinggi Tanah Karo.

Selama sang Raja berada di Singkil, Pengulu Mude Lah yang merupakan adik kandung dari Raja Ngkeran memegang tabuk kekuasaan. Lama sudah sang raja tak kunjung pulang, timbul di pikiran pengulu mude bahwa sang raja takkan kembali lagi karena sudah betah di tanah Singkil atau nasib naas rombongan raja bertemu penyamun di perjalanan menuju kembali ke Tanah Alas, besar harapan Penghulu Mude Hal itu terjadi yang mana secara otomatis putra mahkota hanyalah dia yang berhak menjadi raja selanjutnya mengingat sang raja tidak memilik keturunan yang sah.

Namun perkiraan Pengulu Mude meleset, sang raja dan istri telah kembali ke Kuta-nya di Engkeran dengan wajah berseri-seri dan siap menyambut saat-saat yang dinantikan tiba. beberapa bulan kemudian istrinya mengandung seperti yang dikatakan si dukun, senanglah kiranya sang raja mendengar kabar bahwa sang istri sudah mengandung seorang anak.

Kabar mengandungnya istri sang raja disambut suka-cita oleh seluruh rakyat di kerajaan kecil ini, semua larut dengan kegembiraan, namun tidak bagi Pengulu mude, Niat hati ingin menjadi raja akan sangat sulit tercapai dengan kehadiran seorang anak dari sang raja, maka muncullah niat jahat dari Penghulu Mude Untuk menyingkirkan calon bayi sang raja dengan meminta seorang ahli nujum untuk berbuat sesuatu terhadap bayi yang dianggap oleh pengulu mude sebagai pembawa bencana bagi hidupnya.

“wahai tukang nujum marilah kita ke rumah raja, aku ingin nanti engkau berkata kepada sang raja, bahwa anak yang kelak akan lahir itu adalah anak yg hanya membawa malapetaka dan membawa sengsara di negeri in...." Pengulu mude memberikan arahan kepada dukun tersebut.

"pak dukun yang hebat… kalau lah rencana ini berhasil, sehingga anak raja ini nantinya tersingkir, dan aku akan menjadi raja kelak engkau akan aku angkat menjadi penasehat kerajaan, dan akan aku berikan imbalan kepadamu kerbau sebanyak 7 ekor pula”.

Bukan main gembiranya ahli sihir itu mendengarkan imbalan yang didapatnya dengan modal hanya menghasut sang raja, itu bukanlah pekerjaan yang sulit baginya karena pekerjaannya sehari-hari adalah membohongi para warga yang berobat kepadanya.

***

“ampun beribu ampun tuanku penguasa seberang Sungai Alas,,, jika kedatangan hamba kemari hanyalah hendak membawa kabar duka cita sahaja” Tukang nujum menghadap membungkuk dan memberi hormatnya.

“apa hal kau bersimpuh di hadapanku, apa yang sedang berlaku wahai ahli nujum?”

“menurut penerawangan yang hamba dapati dari datu muyang kita, kelahiran anak tuanku raja hanya akan membawa bala petaka dinegeri kita ini, negeri yang sudah tuanku pimpin bertahun-tahun dan menjadikannya makmur, aman, dan hasil bumi yang tetap melimpah ruah,semua akan hilang dengan sekejap mata dan kejayaan yang tuanku miliki sekarang dengan lahirnya anak pertama tuanku dan yang hamba takutkan akan datanglah masa-masa kesulitan menerpa lembah Alas nan jaya sakti ini, seperti  musibah banjir, menyebarnya penyakit dan hama tanaman akan datang menggerogoti tanaman-tanaman para petani kita, kita juga kedatangan bangsa kulit putih yang akan menjajah negeri kita, dan kelak raja pun akan dibunuhnya pula.....”

“Benarkah itu yang engkau katakan wahai ahli nujum?betapa pahitnya berita yang engkau bawakan kepadaku, padahal baru kemarin aku dan istriku berbahagia menyambut kedatangan buah hati yang sudah sejak lama kami idam-idamkan...” Sang raja hanya terduduk lemas seakan tak percaya akan semua itu.

Ampun beribu ampun tuanku, bukan hati hendak membuat tuanku semaki risau, tapi hamba hanyalah seorang ahli nujum yang mendapatkan wasiat dari nenek moyang kita”

“Lalu, apa yang harus aku perbuat wahai ahli nujum?”

“Sebaiknya tuanku membunuh anak itu atau mengasingkannya sebuah tempat yang jauh dari negeri kita ini....”

Hari demi hari telah berlalu sampai lah pada bulan ke-9 seperti yang telah diperkirakan lahirlah seorang anak bayi laki-laki yang sehat, dan tampan, dan oleh ayahnya dia diberi nama Si Layakh, di karenakan perahu yang membawa ayah dan ibunya ke Singkil tempo dulu menggunakan layar sebagai salah satu penggeraknya.
Berita ketampanan dan lahirnya bayi sang raja engkeran sampai juga pada telinga penguasa dari Natam, yang tak lain adalah paman Si layakh sendiri, maka datanglah rombongan penguasa dari Natam itu ke ngkran melihat langsung bayi si layakh yang tampan.

Setelah berusia lebih kurang lebih 18 tahun, ketampanan, kecerdikkan dan kegagahan Si Layakh semakin jelas di bandingkan dengan pemuda-pemuda lainnya di Tanah Alas ini.
Semua gadis dan orang tua sangat besar hatinya memiliki Si Layakh menjadi suami atau menantu mereka, tak terkecuali dengan Bru Dinam, anak gadis dari Raja penguasa Natam, paman Si Layakh.

***

Kegembiraan melihat tumbuh dan berkembangnya sang anak dari hari ke hari sirna seketika tatkala sang raja suatu hari teringat kembali dengan apa yang dikatakan oleh si ahli Nujum tempo dulu mengenai ancaman mala petaka dan bahaya yang akan menimpa raja dan negeri tanah Alas ini.

Seharusnya Silayakh sudah dibunuh semenjak Ia dilahirkan, namun ibu Si layakh bermohon pada sang raja agar si kecil Layakh untuk tidak di bunuh hari itu juga.

“tega nian kanda hendak membunuhnya, bertahun-tahun kita mendambakan seorang anak, kini dia sudah datang membawa kebahagian kepada kita, kanda hendak membunuhnya begitu saja, biarkan adinda yang merawat Silayar untuk beberapa tahun ini sampai ia dewasa…” kata ibunya dengan memohon.

Mendengar permohonan sang permaisuri dan rengekan si kecil Layakh membuat hati sang raja luluh dan berlinang air mata rasa tak tega pula untuk membunuh anak yang selama ini ia nanti pula, maka si layakh tak jadi di bunuh melainkan di tunggu sampai ia dewasa dan cukup umur untuk bisa mempertahankan dirinya sendiri kelak.

Sampailah pada usia 18 tahun cukuplah rasa sang raja umur Si Layakh untuk menjaga dirinya, dengan berat sang raja memerintahkan anaknya untuk meninggalkan ibu, rumah dan tanah kelahirannya untuk mengembala kobo (Red-Kerbau) di hutan belantara seorang diri dengan waktu yang tak ditentukan masanya. Sang ibu menangis dan mencoba merayu suaminya agar ucapan suaminya dapat ditarik kembali dan tidak jadi dilaksanakan mengingat Si Layakh tidak akan mampu bertahan seorang diri di hutan tanpa bantuan siapapun, namun sang raja tetap pada pendiriannya untuk mengasingkan sang anak semata wayangnya ke hutan belantara.



Tanah Alas Zaman Dahulu by AEFARLAVA INDONESIA
Tanah Alas Zaman Dulu



Kabar pengasingan terhadap si layakh sampai jua ke telinga pamannya di Natam, maka diutuslah impalnya Bru dinam ke Ngkran untuk menjumpai Si layakh dan membawanya ke Natam.

“dimana  impal saya paman…?” Brudinam bertanya kepada Pengulu Mude

“ ahh… impal mu sudah di hutan sana, apa hal gerangan engkau mau menjumpai dia wahai keponakkanku”.

“ Saya ada kepentingan kepadanya, ada pesan dari ayahanda saya,, bagaimanapun saya harus menjumpai Si layakh” Bru dinam dengan jengkel megakhiri obrolannya dengan pamannya yang seakan menutup-nutupi sesuatu darinya.

Berangkatlah Bru dinam ke hutan menjumpai impalnya, di hutan ia mendapati Si Layakh yang sudah kurus kering dan pucat pasi sekan-akan tak ada gairah untuk hidup lagi, namun ketampanan yang ia miliki belum sirna juga.

Wahai impalku, sudilah kiranya kau ikut denganku ke Natam, disana ayahku akan membuka pintu rumahnya selebar-lebarnya kepadamu...?”

“Wahai impalku yang baik hatinya, bukannya aku lancang dengan permintaan pamanku sendiri, namun ini adalah perintah dari ayahku sendiri maka jikalau aku mati disini aku rela dan takkan aku tinggalkan hutan ini sampai ada perintah langsung dari ayahku....” Keteguhan hati Si Layakh membuat Bru dinam tidak mampu melawannya maka pulanglah ia dengan tanpa hasil.

Pada Suatu hari Si layakh mengembala di gunung, dia tidak lagi mempunyai pakaian karena sudah hancur dia mencari buah-buahan di hutan. Tanpa sengaja dia berjumpa dengan nenek-nenek pencari kayu bakar, setelah nenek itu mengumpulkan kayu bakarnya, dia mengambil akar menjalar untuk mengikat sejumlah kayu yang ia cari sebelumnya. Begitu si nenek menarik akar itu, tanpa sengaja terinjak oleh Si Layakh, lalu ditahan olehnya Si layakh,  ditarik kembali oleh si nenek dan ditahannya pula lagi dan seterusnya.

Si nenek dengan mata agak rabun berupaya melihat siapa sosok yang mengganggu pekerjaannya hari ini, seperti manusia, tapi tidak berpakaian selayaknya manusia (tidak bersyari’at). Lalu si nenek berteriak: “hai yang disana… apakah kau manusia atau jin?, jika kamu manusia tunjukanlah diri kamu, jika kamu jin apa yang engkau inginkan dariku?”
Datang suara dari balik kayu; “hai ibu,,, aku adalah manusia sama seperti kamu, tatapi saya tidak berani keluar karena saya tidak punya pakaian lagi …”


Kebiasaan didaerah ini kalau perempuan pergi ke ladang, ke sawah atau urusan pekerjaan lainnya, perempuan biasanya membawa kain sedikit-dikitnya dua lembar kain, yang satu untuk diikatkan dipinggang, dan yang satu dipakai sebagai kain sarung.

Kemudian si Ibu ini tadi membuka kain yang diikat dipinggangnya lalu dilemparkannya ke Silayar, “jangan tengok kemari” kata Silayar, lalu siperempuan berbalik dan melemparkannya ke belakang, lalu Silayar memakai kain itu tadi. Kemudian berceritalah dia dan mengatakan bahwa dia Silayar anak Raja Ngkeran. Setelah itu si Ibu ini tadi menyampaikan kabar kepada Ibu Silayar lalu Ibunyapun menangis, namun dari cerita ini sang raja dan Pengulu Mude tidak mengindahkan.

Kebiasaan didaerah ini kalau perempuan pergi ke ladang, ke sawah atau urusan pekerjaan lainnya,mereka biasanya membawa kain sedikit-dikitnya dua lembar kain, yang satu untuk diikatkan dipinggang, dan yang satu dipakai sebagai tudung rambut.

Kemudian si nenek dengan iba hati membuka kain yang diikat di kepalanya lalu dilemparkannya ke Si layakh. Setelah mengenakan kain itu Kemudian berceritalah Si Layakh tentang jati dirinya  yang merupakan seorang anak Raja dari Ngkeran. Si nenek yang mengetahui itu menceritakan pertemuannya dengan Si Layakh kepada ibu, ayah dan pamanya, Pengulu mude. Ibu si layakh tak kuasa menahan tangis mendengar kondisi anaknya yang mengenaskan itu, namun tak dengan ayah dan pengulu mude, mereka hanya terpaku seperti tak menghiraukan berita yang memilukan itu.

***

Pamannya Si layakh yang berada di Natam hendak mendirikan rumah baru, maka diundanglah seluruh keluarga dari Ngkeran untuk kenduri (Red-Syukuran) ke Natam. Atas undangan kenduri untuk mendirikan rumah tersebut, maka berangkatlah raja dan seluruh anggota keluarga raja.

Seakan memiliki ikatan batin dengan pamannya Si Layakh memutuskan untuk turun gunung untuk pertama kalinya sejak diasingkan oleh ayah kandungnya sendiri, dia hendak mencari tau apa hal yang membuat hatinya sangat gelisah hari ini. sesampainya di rumah Ia tidak mendapati satu orang pun disana, dilihatnya kesana-kesini diseluruh sudut rumah tak ada juga barulah ia kemudian keluar rumah dan menanyakan kepada penduduk kemana raja dan anggota keluarga lainnya.

Salah satu diantara penduduk yang ada dikampung tersebut memberikan penjelasan bahwa keluarganya diundang ke Natam mengadiri syukuran acara pendirian rumah baru sang paman.

***



Dengan rasa tanggung jawab sebagai salah satu anggota keluarga, hati Si Layakh terpanggil untuk menghadiri kenduri tersebut meskipun dihati kecilnya ia merasa sangat kecewa karena seperti tidak diinginkan kehadirannya dikeluarga ini. Maka pergilah ia dengan pakaian yang compang-camping

http://kaisosogarcia.blogspot.co.id/
Rumah adat Suku Alas Foto : Riduwan Philly

Pendirian rumah pamannya sudah hampir 99 % rampung hanya saja diperlukan peletakkan tiang utama untuk memberikan kekokohan rumah dan tanda bahwa itu adalah rumah dari penguasa seluruh Natam, namun tak ada satupun pemuda di Natam tersebut mampu untuk mendirikannya, tidak juga dengan bersama-sama, semua seperti tak memiliki tulang saat akan mengangkat dan mendirikan tiang utama rumah itu, segala upaya telah dicoba, semuanya gagal barulah dipanggil ahli nujum untuk mencari tau apa hal yang membuat tiang utama dari kayu ini sangat sulit untuk diangkat dan didirikan oleh pemuda-pemuda yang badannya bukan seperti lidi.

 “kita tidak mampu mendirikan rumah ini,,, sebenarnya ada seorang anak bertuah yang sakti, dan ada hubungannya dengan kalian, tetapi saat ini dia tidak ada disini … carilah dia, kalau ada dia, dia bisa mendirikannya itu, kata si dukun”. Ahli nujum berupaya menafsirkan peristiwa aneh ini.

Semua penduduk dibuat binggung dengan pernyataan ahli nujum, mereka semua tak tau siapa yang hendak dimaksud oleh dukun sakti tersebut, mereka seakan lupa dengan jati diri Si Layakh yang dengan tenang dari kejauhan menyaksikan peristiwa tersebut dan menunggu waktu yang tepat untuk membantu pamannya yang sedang kesusahan.

Izinkan hamba, tuan penguasa seluruh tanah Natam, untuk membantu..” Si Layakh sedikit berteriak dan sontak membuat suasana menjadi sepi dan sunyi seakan mereka menganggap aneh dan remeh dengan kekuatan yang dimiliki pemuda dekil dan compang-camping itu.

Silahkan anak muda!” Paman si layakh juga tidak mengenali keponakkannya dengan baik karena terakhir kali ia berjumpa dengan layakh saat si layakh melakukan khitanan.

Dengan sedikit membaca mantra ke dalam air yang ia minta, Si layakh menyiramkan air tersebut ke seluruh tiang utama rumah, dan ajaib dengan entengnya Si layakh seorang diri mengangkat tiang tersebut tanpa bantuan orang lain, dengan peristiwa tersebut membuat semua penduduk takjub dan bersorak gembira.

Siapakah gerangan dirimu wahai anak muda?” Tanya Penguasa Natam keheranan dengan kesaktian Si Layakh

Hamba tuanku, Si Layakh Pengembala kerbau dari Hutan engkran...”
“Kau adalah keponakkanku yang sudah lama aku cari-cari, kemarilah nak, kenapa dengan bajumu....!

Suasana haru menyelimuti kenduri yang seharusnya hari itu adalah kegembiraan bagi seluruh penduduk Natam ditambah rasa malu dari keluarga kerajaan Ngkran yang dengan tega membiarkan anggota keluarganya terlantar dihutan berjuang hidup sendirian


Keluarga kerajaan Ngkran bermalam di Natam beberapa hari untuk menghormati penguasa Natam,  pagi harinya, hari ke-4 berangkatlah rombongan raja Ngkran untuk kembali ke rumah mereka. Iring-iringan raja Ngkran sangatlah panjang, dengan posisi terdepan adalah raja dan permaisurinya, dan di lanjuti dengan Nenek, pak cik dan mak cik sang raja dan juga selir-selir raja barulah di paling belakang rombongan berjalan Pengulu Mude bersama  Si layakh.

Hati pengulu mude mulai cemas kembali dengan kehadiran keponakkannya akan menjadi saingannya menjadi raja selanjutnya, maka timbullah niat jahatnya untuk menghabisi keponakkanya hari itu juga. Tepat di daerah Pulo Biang yang rute jalannya berbukit-bukit, dan terdapat titi terbuat dari kayu yang dibawahnya mengalir air Sungai dari pegunungan lebar sungainya 4-5 meter. Merasa Kondisi dan waktu sudah tepat, dipukullah sang keponakkan dari belakang dengan balok kayu oleh pengulu mude, lalu ia menjatuhkan tubuh si layakh ke Sungai yang airnya bermuara di Sungai Alas.

***

Keluarga Raja Natam baru saja menikmati suasana rumah baru, rumah yang sangat megah dibandingkan rumah-rumah lainnya, namun kenyamanan rumah baru itu terusik dengan teriakan-teriakan parau dari atap rumah, setelah diliat ketap rumah ternyata telah berdiri tegak seekor burung elang jantan berteriak-teriak keras seakan memberi suatu petanda kabar buruk entah kabar itu dari mana asalnya.

“Kabar buruk apa yang sedang diberitahukan oleh mu wahai elang?” Bru dinam seakan mencoba menterjemahkan sendiri maksud dari sang elang, mulai muncul was-was dihatinya telah terjadi sesuatu dengan rombongan raja ngkran karena kedatangan elang ini tak lama selepas rombongan besar itu meninggalkan tanah natam.

Maka, menyusullah sekelompok kecil pengawal kerajaan Natam untuk menyusul rombongan Raja Ngkran, tepat saja sesampainya di Pulo Biang tampak dari bawah jurang sesosok manusia yang tergeletak sepertinya sudah tak bernyawa lagi, maka untuk memastikan siapa manusia itu maka turunlah salah-satu pengawal melihat langsung, dan ternyata Si Layakh lah yang mereka dapati, nafasnya ter-engah engah dan denyut nadinya seakan-akan hilang dan kembali berdetak, maka dibawalah tubuh setengah hidup Si Layakh ke Natam, dan di coba diobati oleh Tabib Tengku Putih.

Biasanya orang yang mengalami peristiwa sedemikian parah ini takkan mampu lagi untuk bertahan hidup namun tuhan berkata lain, si Layakh masih bisa bertahan dan mulai berlahan-lahan pulih kembali, untuk sementara waktu ia tetap di Natam, tanah kekuasaan pamannya disana ia akan dilindungi dari segala ancaman.

 

Mendengar kabar bahwa Si Layakh masih hidup, Pengulu Mude merasa ngeri juga melihat keponakkannya yang seperti memiliki nyawa 1000, nyatanya dia sudah mencoba beberapa kali percobaan pembunuhan namun semuanya nihil, mungkin perencanaannya saja yang belum tersusun rapi, pengulu mude mencoba meyakinkan diri. Maka disusunlah suatu siasat licik dan keji untuk benar-benar membunuh keponakkannya sendiri, maka pamitlah Pengulu Mude kepada Raja Ngkran, abangnya sendiri untuk berangkat ke Blangkejeren, tanahnya orang Gayo untuk membeli beberapa Kobo (Red-Kerbau), namun iya tidak menceritakan kepada sang Raja, bahwa si layakh ikut dengannya ke Blangkejeren.

***

Dengan beberapa tipu daya dan bujukkan ditambah keluguan Si Layakh yang masih berpikiran positif akan sosok pamannya yang nyata-nyata banyak memberikan penderitaan terhadap hidupnya sendari kecil, Si Layakh percaya saja bahwa ini adalah perintah oleh ayahnya mengutus dirinya ke Blangkejeren membeli 
beberapa kobo.

***
Sesampai di dataran tinggi Gayo dibelilah beberapa kobo sebagaimana yang direncanakan semula. Setelah urusan selesai semua dan semua berjalan dengan baik-baik saja maka mereka memutuskan untuk pulang kembali ke Tanah Alas. 

Mereka berdua berjalan kaki dan terkadang menaiki sang kerbau dan berlahan-lahan mulai meninggalkan perumahan penduduk dan memasukki  wilayah pengurusan yang memiliki jalan yang sangat curam dan tanpa penduduk, Pengurusan sekarang ini masuk kedalam daerah gurah yang merupakan tanah yang berbukit-bukit dan bergunung dan juga tempat perbatasan dengan Tanah Gayo.

Si Layakh dengan tetap berpikiran positif berjalan didepan tanpa memperdulikan gerak-gerik pamannya dari belakang pakciknya Pengulu Mude sambil memegang sebuah kayu yang cukup besar, sudah bersiap untuk memukul Si layakh, dan disaat waktu yang tepat dipukulnyalah Si layakh, ia seketika tersungkur tak berdaya dengan kejinya tubuh Si layakh untuk kedua kalinya dijatuhkan ke jurang yang terjal.
Pengulu mude dengan entengnya membawa kerbau tersebut kembali ke tanah Alas, tanpa merasa berdosa sama sekali dengan keponakkannya.

Tanah yang menjadi tempat jatuhnya Si Layakh di pengurusan di percaya penduduk setempat dewasa ini tak dapat hidup kembali, dan jika pun hidup binatang takkan mau mendekat dan memakan rumputnya. (Nb : Ada juga versi yang mengatakan bahwa riwayat hidup Si Layakh hanya sampai di pengurusan saja, ia dibunuh dan tubuhnya dimutilasi oleh pamannya dan tanah tempat potongan tubuh si layakh tidak lagi di tumbuhi oleh rumput dan hewan-hewan enggan mendekati area tersebut)
.
***



Selang tiga hari setelah peristiwa keji itu sampailah pengulu mude ke tanah Natam, dan menceritakan peristiwa tragis yang ia karang sendiri tentang Si Layakh, bahwa keponakkannya terbunuh oleh seekor harimau yang sangat buas di Perbatasan dengan tanah Gayo, seakan Bru dinam tak percaya kekasihnya yang sudah ditunangkan itu dapat dengan mudah dibunuh oleh seekor harimau.

Pengulu mude mulai mencoba merayu Bru dinam untuk menikah saja dengannya yang rupanya sudah sendari dulu menaruh hati akan kecantikkan yang dimiliki olehnya.

Ajakkan itu tak lantas saja diterima oleh Bru dinam yang masih sangat terpukul dengan meninggalnya Si Layakh, pengulu mude memahami dan menunggu berbulan-bulan lamanya dengan kesabaran dan terus-menerus berupaya merayu hati Bru dinam.

Akhirnya luluh juga hati Bru dinam akan kegigihan pengulu mude, ditambah toh Si Layakh tak kunjung kembali dan pasti takkan kembali juga, atas desakkan orang tuannya pula maka, pinangang Pengulu mude diterima juga akhirnya.

***


Seperti yang dikatakan bahwa Si layakh seperti memiliki 1000 nyawa buktinya dia masih mampu bertahan setelah di pukul dan dijatuhkan dari atas jurang yang terjal, dan tanpa sengaja Syiah Ketambe ( ada yang mengatakan bahwa Syiah ketambe Jin Islam penguasa Ketambe dan ada juga yang mengatakan bahwa ia adalah orang sakti sekaligus ulama penyebar Syi’ar Islam) ia melewati tempat tersebut dan melihat Si Layakh tergeletak tak berdaya maka dibawalah Si Layakh ke rumah Syiah ketambe untuk diobati, berhari-hari kesehatan Si Layakh kian membaik, maka untuk menjaga dirinya, diajari olehnya gerakkan Seni bela diri oleh Syiah ketambe gerakkan inilah yang konon menjadi cikal bakal dari kesenian Peulebat.

Memang dari dasarnya Si Layakh adalah pemuda yang penuh dengan bakat, dengan mudah seluruh gerakkan dari Peulebat ia kuasai, melihat perkembangan pesat itu Syiah Ketambe merasa Si Layakh sudah cukup mampu untuk mempertahankan dirinya dari musuh-musuhnya,

“turunlah kau nak….“,

“Kenapa kek?apa saya punya salah, atau saya membuat kakek susah? lagian saya tidak mau lagi lepas dari kakek, saya ingin tetap dan hidup bersama kakek… disini saya mendapatkan sosok ayah dan panutan hal yang tidak saya dapatkan selama ini dikeluarga saya sendiri yang kejam sama saya.” Si Layakh memelas agar tak diusir dari rumah Syiah ketambe.

 “Nak,, kau tak punya salah ataupun menyusahkanku, hanya saja, kau tidak bisa tinggal bersamaku selamanya… kau ku rawat dan ku jaga bukan untuk tingal tetap denganku, kau harus pulang ke negerimu, kau ku beri tugas untuk membawa misi kebenaran, kau harus menunjukkan kebenaran itulah yang menang dan yang salah itulah yang akan kalah, tidak semua keluargamu memiliki peragai jahat, ayah dan ibumu adalah orang yang baik dia hanya ditipu seseorang yang berkedok sebagai saudara… dan kamu juga harus tahu bahwa tunanganmu saat ini mau dikawinkan dengan pakcikmu Pengulu Mude, pulanglah sekarang juga ubah jalan hidupmu, bukan disini seharusnya engkau berada.” mendengar penjelasan itu maka tenang dan mantaplah hati layakh untuk kembali dan merebut segalanya yang telah hilang darinya walaupun ada sedikit rasa sakit hati bahwa cintanya telah dikhianati oleh Bru dinam.
“Nak, sekarang engkau ku berkati, dan aku bekali engkau dengan sebuah pedang, dua bilah bambu, dan sebelum engkau melangkahkan kakimu keluar dari rumah ini pakailah baju yang aku buat dengan tanganku sendiri”. Syiah Ketambe kemudian mendekati Si layakh dan memegang kepalanya sembari memberi restu kepergian Si Layakh.

Lalu di pakai oleh Si Layakh pakaian berwarna kuning yang lengkap dengan kain ikat kepala, kain ikat pinggang buatan tangang Syiah Ketambe. Sampai sekarang baju bewarna kuning di tanah Alas adalah baju kebesaran/baju utama dari penguasa.

“nanti setelah engkau sampai disana, bujuklah tunanganmu agar Pengulu mude mau bertanding Peulebat dengan mu sebelum akad pernikahan dihelat. bambu yang kuning ini untuk mu dan bambu putih berikan kepada Pengulu Mude”. Amanat terakhir dari Syiah Ketambe.

Dengan hati membara dan dendam yang meluap-luap bergegaslah Si layakh kembali ke Natam sembari megenggam sebuah pedang yang berkilau kemilauan yang merupakan pusaka dari Syiah Ketambe dan dua potong bambu yang akan digunakan untuk Peulebat.



http://kaisosogarcia.blogspot.co.id/




Tak begitu jauh Si Layakh melangkahkan kakinya dari rumah Syiah ketambe, terdengar dari kejauhan sesosok makhluk yang berlari sangat kencang dari balik semak-semak hutan yang suara itu semakin lama semakin keras ditambah hauman menggelegar sangat keras menuju kearahnya, lalu munculah seekor harimau jantan yang sangat besar mendekati dirinya namun harimau tersebut tak serta merta menerkamnya melainkan terduduk bersimpuh dihadapannya lalu mengertilah Si Layakh bahwa ini adalah kiriman bantuan dari gurunya Syiah ketambe, dengan memberanikan diri berlahan-lahan dinaikinya tubuh harimau jantan yang sangat besar itu dan seketika melesatlah harimau membawa Si layakh menuju ketujuannya.

***

Dengan hati was-was Si layakh terus memaksa sang harimau untuk segera sampai ke Natam tak begitu lama hanya membutuhkan beberapa jam saja ia sudah sampai di Natam dan melihat suasana keramaian di rumah Bru dinam, karena seluruh penduduk Natam sudah berjaga-jaga untuk menunggu kedatangan rombongan Pengulu Mude untuk menjemput Brudinam atau mekhaleng.

Bru dinam yang sendari tadi mengamati ibu-ibu dan bapak-bapak dalam melengkapi segala keperluan penyambutan dengan cepat mengenali pemuda tampan dan gagah yang berbaju kuning berkilau itu.

“Kau kah itu kekasihku? Layakh?, kemarilah aku sangan merindukanmu!” Suara lembut Bru dinam membunuh kegaduhan suara penduduk Natam yang tak menyadari kehadiran Si Layakh sedari tadi.

“Tega betul engkau khianati cinta kita,kau terima pinangan pengulu mude pamanku sendiri, apakah aku tak pantas untukmu, anak yang sedari kecil selalu dalam kemalangan?”

Kau salah, aku masih mencintaimu, setiap malam aku berdo’a kepada tuhan akan keselamatanmu!”

“Lalu kenapa kau terima pinangannya?”

“Pengulu mude berbohong kepadaku, dan kepada kita semua, yang mengatakan bahwa kau sudah mati diterkam Harimau penguasa hutan ketambe,lalu aku didesak orang tuaku agar menerima saja pinangan pengulu mude”. Kata Brudinam.

“Benarkah itu wahai kekasihku….”

Benar kekasihku, apapun akan aku lakukan demi kita bisa bersatu kembali, kalau perlu kita tinggalkan saja tanah Alas ini dan menikah membangun istana kita sendiri”

“Amay,  jangan impal ku, kalau rencanamu seperti itu tidak baik bagi kita, hina di mata orang dan tidak berkah pula hidup kita kelak….” Kata Silayar.

“Lalu apa yang harus aku lakukan?” Bru dinam mendesak Si Layakh

“Begini jika kelak rombongan pengulu mude datang mintalah suatu permohonan seperti halnya mahar agar Pengulu mude sudi kiranya bertanding Peulebat denganku, berikan bambu putih ini kepadanya yang panjangnya sama sahaja dengan bambuku yang bewarna kuning ini”. Si Layakh memberi tahu idenya tanpa banyak bertanya Bru dinam menyanggupi permintaan Si Layakh.

Hari sudah menjelang sore datanglah Pengulu mude dengan dada membusung menandakan kemenangannya mereka tak diizinkan masuk kerumah terlebih dahulu tanpa seizin mempelai wanita.

“sebelum pernikahan ini dimulai, aku ada  permintaan seperti halnya mahar kepada Pengulu Mude calon suami saya!” Terdengar dari balik pintu suara Bru dinam

“Silahkan… apa syaratnya, asal jangan kau minta langit dengan bintang, lain dari itu akan aku serahkan kepada mu,kalau yang ada didunia ini kau minta saja sayang” dengan sombongnya pengulu mude berkata.

 “Sebelum acara sakral ini dimulai Kau harus terlebih dahulu bertanding main peulebat dengan seorang pemuda pilihanku, kau harus mampu melawan dan mengalahkannya sebagai bukti cintamu dan kekuatanmu menjaga aku dan keluargaku kelak” Bru dinam dengan gugup dan tak yakin akan kemampuan dari Si Layakh untuk mengalahkan pengulu mude yang sudah tersohor kemampuannya dalam bela diri

“Ohh…. Jangan coba-coba kata Pengulu Mude, tidak ada yang mempu mengalahkan saya. Saya ini bukan orang sembarangan, satu lawan lima saya mampu, asal jangan ayah kamu saja lawan saya. Kalau dengan orang lain siapapun saya mau, Mari kita mulai bunyikan canang untuk mengirigi pertandingan kami” Dengan perasaan diatas langit ia meyakini tidak ada pemuda Natam yang bisa mengalahkannya dalam berkelahi .

Di bunyikanlah Alat musik Canang Alas ditambah gong kecil mirip dengan talempong tanda pertandingan akan segera dimulai, dengan musik khas Alas itu dengan refleknya Pengulu mude menari mengikuti irama musik Canang…

“mana lawan saya…?” Pengulu mude tak sabar menyelesaikan semua ini.
Berselang beberapa detik keluarlah si Layakh dari kerumanan orang

“aku lawan mu….” Dengan Suara keras dan menggelegar tanda kekuatannya.

“ennow….. kau masih hidup juga ya, betuah betul hidupmu, sudah tiga kali aku coba bunuh kau nyatanya tak berhasil juga, baiklah tak apa kali ini kau akan betul-betul aku pastikan mati didepan seluruh penduduk natam hari ini juga…” tanpa sadar ia telah mengakui semua kejahatan yang dilakukannya selama ini kepada Silayar.

Lalu Brudinam keluar dan menghampiri mereka, memberikan bambu kuning kepada Silayakh dan bambu putih ke Pengulu Mude, maka bertandinglah keponakkan dan pamannya untuk memperebutkan cinta Bru dinam.

http://kaisosogarcia.blogspot.co.id/
Ilustrasi Peulebat Credit : Riduwan Philly

Di luar dugaan, Pengulu mude terdesak dengan serangan gencar dari Si Layakh, tak ayal membuat pengulu mude menjadi bual-bualan pukulan bambu kuning miling Si Layakh ketapak-ketepuk, ketepak-ketepuk,,,, sudah sering kena dia, namun Pengulu Mude ini tidak juga menyerah dan tetap melakukan perlawanan.
Karena merasa malu dengan keadaan yang membuatnya terdesak, Pengulu Mude makin emosi, dengan kondisi panik wibawanya diinjak-injak Pengulu Mude mencabut pedang mekhemunya dari belakang bajunya dan berkata “hai Silayar… kau akan ku bunuh sekarang juga, tidak percuma nama saya ini Pengulu Mude jika tidak bisa aku membunuhmu sekarang juga”.

Setelah dia mencabut pedangnya dan menyerang membabi-buta kearah Silayakh, dengan tenang Si Layakh meladenin serangan pamannya lalu dicabutnya pula pedang pemberian Syiah ketambe yang memancarkan kemilau.

“wahai pakcik ku Pengulu Mude, Tuhan telah merestui nyawamu sekarang di mata pedang saya ini dengan perbuatanmu yang keji, jadi saya tidak berdosa lagi bila engkau mati dimata pedang ini”.


Pertarungan segit pun berlangsung,,, beberapa kali Pengulu Mude mencoba menghentak Si layakh dengan pedangnya namun tidak kena gagum juga hati pengulu mude dengan kehebatan yang di miliki keponakkannya.

Pengulu mude mulai kelelahan dengan gerakkan menyerangnnya yang sia-sia kini tiba giliran Si layakh yang menyerang, melihat kondisi pamannya yang kelelahan.

Tanpa susah payah Si Layakh mampu menjatuhkan pengulu mude dengan sekali tendangan saja, pengulu mude tersungkur, terkulai tak berdaya menghadapi serangan berisi dari Si Layakh, dengan bersimbah darah pengulu mude merengek dan meminta belas kasihan keponakkannya agar tak dibunuh.

Dengan bebesar hati Si Layakh mengampunin pamannya, namun hukum harus ia tegakkan pula demi amanat dari syiah kuala yang bersalah harus tetap di hukum, dengan kebijakkannya pengulu mude diusir dari tanoh Alas hari itu juga bersama kehinaan dan cemoohan masyarakat Alas akan ulahnya selama ini.

***

Dari kejauhan ayah Si Layakh mengamati dengan sedih bercampur dengan kebanggaan, sedih karena terjadi pertumpahan darah dalam keluarga intinya sendiri dan bangga karena anaknya adalah orang yang sangat bijaksana.

Kemudian Brudinam mendatangi Si layakh dan dipeluklah Si layakh yang menjadi bakal suaminya, dan terbuktilah bukanlah Si layakh yang menjadi malapetaka bagi kerajaan ngkran melainkan pengulu mude adik kandung raja Ngkran sendiri.

Dan hari itu juga dinikahkanlah Si Layakh dan Bru dinam menjadi pasangan suami istri, kelak Selepas kepemimpinan ayahnya Si Layakh memimpin dengan arif dan bijaksana yang membawa kemakmuran dan kebahagian lebih bagi rakyatnya.

Tamat

NB : mohon jika ada yang hendak membuat drama cerita Si Layakh agar berhati-hati dalam mencari para lakonnya karena menurut mitos di kutacane, pemeran Si Layakh dan Bru dinam haruslah orang pilihan kalau tidak akan terjadi mala petaka pada yang memerankannya, percaya atau tidak kembali lagi kepada kepercayaan kita masing-masing. Satu lagi lakon Bru dihe tidak saya masukkan ke dalam alur cerita ini karena ada mitos yang mengatakan bahwa Bru dihe sangat sulit untuk digambarkan perawakkannya, mohon maaf jika ada kesalahan pengetikan.
.

Refrensi dan Sumber:

  1.  Description performer note: Yakub Pagan, 1982, “Cerita Legenda Silayar” Audio Visual
  2.  Kartomi, Margareth J, The Kartomi Collection of Traditional Musical Arts in Sumatra;
  3. http://arrow.monash.edu.au/hdl/1959.1/51882
    http://dodileuser.wordpress.com/2013/02/08/cerita-legenda-silayar/









Berkomentarlah dengan Cara yang sopan dan punya etika, No Bully, No Sara, No Spam dan yang terpenting No Porn, biar Barokah hidup kita!!
EmoticonEmoticon